Skip to content

ya sudah lah : please go, hot money … 200111_041014

October 4, 2014
JAKARTA sinar harapan – Kegaduhan politik yang terjadi beberapa hari belakangan diyakini menjadi sentimen negatif bagi perekonomian nasional, khususnya di pasar keuangan. Penguasaan oposisi di parlemen, Kamis (2/10) dini hari, menjadi puncak kegaduhan yang menjadi catatan tersendiri bagi pelaku pasar dan investor.

“Jelas ini semua akan menjadi sentimen negatif di tengah sepinya sentimen positif dari sisi makroekonomi. Apalagi, pada Agustus terjadi defisit perdagangan,” ujar Kepala Ekonom Bank Nasional Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, kepada SH di Jakarta, Kamis.

Menurut Ryan, kegaduhan politik yang tidak bermutu ini menjadi catatan pelaku pasar. Mereka, Ryan mengungkapkan, akan “menghukum” dengan melakukan beberapa aksi. Pertama adalah melarikan modal (capital flight). Kedua merupakan aksi tunggu (wait and see) dalam investasi. Sementara itu, aksi ketiga adalah mencari negara tujuan investasi lain di ASEAN, seperti Myanmar dan Vietnam.

Kondisi perpolitikan ini, menurutnya, memperburuk tekanan ekonomi dari eksternal, seperti rencana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (Fed fund rate). Tekanan terhadap rupiah juga akan semakin kuat.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 33 poin setelah terkena tekanan jual. Investor asing terus melepas saham di tengah makin memanasnya tensi politik dalam negeri. Membuka perdagangan, Kamis pagi ini, IHSG melorot 62,929 poin (1,22 persen) ke level 5.077,987. Indeks LQ45 anjlok pula 13,965 poin (1,60 persen) ke level 8.56,845.

Pergerakan IHSG masih dipengaruhi asing yang membukukan nett sell selama tujuh hari berturut-turut. “Asing terus membukukan net sell selama tujuh hari berturut-turut, totalnya mencapai US$ 400 juta, sebagai kombinasi potensi kenaikan Fed rate, berakhirnya QE (pelonggaran kuantitatif), dan kondisi politik yang tidak stabil,” tutur riset harian Samuel Sekuritas, Kamis pagi.

Faktor pelemahan selanjutnya datang dari ketidakstabilan politik yang diperparah oleh terpilihnya pemimpin DPR yang berasal dari partai yang beroposisi dengan pemerintah. “Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan partai pemerintah tidak bakal kuat di DPR,” tulis tim analis Samuel Sekuritas.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai net sell asing terbesar pada tahun ini terjadi pada 15 Agustus, mencapai Rp 1,928 triliun. Beberapa pekan terakhir, asing kembali terlihat melepas kepemilikan asetnya dari pasar saham. Aksi jual asing ini sudah terlihat sejak 9 September dengan kisaran nilai penjualan antara Rp 122,506 miliar-1,419 triliun.

Terpisah, ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Lana Soelistianingsih mengatakan, pergolakan politik yang saat ini terjadi menambah tekanan jual asing di tengah tekanan dari pasar keuangan global. “Semua kombinasi ini sudah direspons negatif oleh asing dengan adanya tekanan jual di pasar keuangan. Apalagi, ada rencana kenaikan Fed fund rate,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini memang sulit memisahkan sentimen negatif di pasar keuangan yang berasal dari faktor ekternal atau internal. Namun dapat dipastikan, kondisi politik dalam negeri menambah sentimen negatif bagi pasar.

Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melanjutkan pelemahan. Rupiah pagi ini dibuka di Rp 12.156 per dolar AS. Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis, rupiah saat ini dalam pergerakan non-delivery forward (NDF) melemah tiga poin atau 0,03 persen ke Rp 12.137 per dolar AS.

Angka tersebut melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 12.134 per dolar AS. Rupiah pagi ini bergerak di kisaran Rp 12.137-12.160 per dolar AS. Ini dengan pergerakan 52 minggu di kisaran Rp 10.766-12.281 per dolar AS.

Selama tiga hari berturut-turut, rupiah kembali menembus Rp 12.000 per dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah mulai bergerak di posisi Rp 12.007 per dolar AS pada Jumat (26/9). Rupiah kemudian terus tertekan hingga menyentuh Rp 12.120 per dolar AS pada Senin (29/9).

“Jika pemerintahan baru mampu mengelola dengan efektif kegaduhan politik ini melalui jalan rekonsiliasi dengan parpol-parpol lain yang berseberangan, tekanan akan berkurang. Tapi, ini tentu butuh waktu 3-6 bulan ke depan,” tutur Ryan.

Menurut Lana, sejatinya penguasaan parlemen oleh opoisisi bisa menjadi sesuatu yang positif jika mekanisme check and balences bisa berjalan baik. “Pasar nantinya melihat dan menilai hal ini,” ujarnya.

Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Kantor Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta menuturkan, salah satu indikator iklim investasi yang kondusif adalah stabilitas politik di suatu negara. “Kita lihat reaksi beberapa negara akibat pengesahan UU Pilkada (Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah), dinilai Indonesia mengalami kemunduran,” ucapnya.

Kegaduhan politik yang terjadi saat ini, menurutnya, ditonton dan diamati dunia, termasuk para calon investor. Indonesia saat ini, Sarman menyatakan, dinilai ini berposisi strategis sebagai salah satu negara dengan penduduk lima besar di dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, serta memiliki peran strategis di ASEAN.

“Kegaduhan politik saat ini, yang terkesan politik balas dendam, semakin memberikan pesan ke dunia internasional bahwa Indonesia belum dewasa dalam berpolitik,” tuturnya.

Ia meyakini, situasi politik ini tentu memengaruhi pasar juga calon investor. “Dalam bayangan mereka, pemerintahan ke depan akan tidak leluasa bergerak dan akan selalu dihambat parlemen. Bagi investor, ini masuk kategori negara yang kurang kondusif dalam berinvestasi dan berkepastian hukum,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan

JAKARTA, KOMPAS.com – Alarm  itu menyalak kencang!  Adalah Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen yang kembali membunyikannya.

Kemarin (24/9/2014), Yellen kembali minta agar investor waspada. Sebab, The Fed akan mengumumkan kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan, jika ekonomi AS terus meningkat, lebih baik daripada perkiraan. Bahkan, ada kemungkinan, kenaikan bunga tak dilakukan di kuartal pertama 2015, tapi di akhir 2014.

Ini jelas harus menjadi lampu kuning bagi pemerintah baru 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Sebab, ada ancaman terjadi pembalikan dana-dana asing (hot money) dari pasar keuangan Indonesia.  Apalagi, dana-dana asing menguasai pasar portofolio Indonesia, baik di pasar saham maupun surat utang negara atau SUN.

Hingga 22 September, dana asing di pasar SUN semisal sudah mencapai Rp 443,72 triliun atau 37,02 persen dari total dana yang ada di SUN. Meski sepanjang Agustus sampai September, dana asing keluar, namun bila dihitung sejak awal tahun tahun, net buy asing masih tinggi yakni Rp 52,59 triliun.

Bila dana-dana panas ini serentak keluar (sudden reserval)  bisa membuat perekonomian kolaps. Apalagi, kondisi ini juga bersamaan dengan tren pelemahan rupiah serta harga komoditas andalan ekspor Indonesia yang turun hingga beban utang luar negeri pemerintah yang kini mencapai 40 persen dari total uang pemerintah.

“Kondisi ini harus mendapat perhatian khusus pemerintah baru,” tandas  Menteri Keuangan Chatib Basri, Rabu (23/9/2014).

Apalagi, hingga saat ini, Indonesia belum memiliki jaring pengaman sistem keuangan atau JPSK. Padahal, UU ini bisa jadi payung hukum untuk menghindari krisis.

Chatib menyarankan agar pemerintah baru bersiaga menghadapi ancaman pembalikan hot money. Sejumlah bantalan harus disiapkan.

Pertama, pemerintah harus memperbaiki fundamental ekonomi dengan  memperbaiki defisit neraca dagang dan transaksi berjalan.

Kedua, lewat bond stabilization framework, pemerintah bisa membeli kembali (buy back) SUN yang ditinggalkan asing dengan menggunakan dana anggaran,  meminta BUMN ikut membeli SUN hingga bisa memanfaatkan dana umat yakni Dana Haji dan Dana Jaminan Sosial untuk masuk ke SUN.

Hitungan dia,  dana haji yang bisa masuk SUN bisa 15 miliar dollar AS. Adapun, dana jaminan sosial 30 miliar dollar AS hingga 2020. Dengan kurs rupiah saat ini, dana itu senilai lebih dari Rp 500 triliun.

Namun, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti yakin hot money tak akan langsung keluar karena imbal hasil investasi di Indonesia masih tinggi. Apalagi, “Jika pemerintah baru mampu menjaga stabilitas makro, ” kata Destri.  (Adi Wikanto, Asep Munazat Zatnika, Jane Aprilyani, Margareta Engge Kharismawati)

 

Analysis: Emerging markets? So last year, some investors say

8:07am EST

By Dominic Lau and Scott Barber

LONDON (Reuters) – Equity investors take note: the emerging markets bet which paid off so handsomely last year may have run its course for the time being.

For the year ahead, exposure to surprisingly strong domestic European growth may prove more lucrative than investing in markets such as China, still fast growing but which could be affected negatively by factors such as rising inflation.

Shares in plenty of companies heavily exposed to emerging markets outperformed last year, but some investors have already started to seek cheaper valuations among stocks which stand to benefit from domestic growth.

“The emerging market story has got a long, long way to go … (but) in the short term, some of the valuations might be a little bit generous. With the prospects of recovery in Europe, it’s going to be less of a short-term theme,” a London-based fund manager, who declined to be identified, said.

“It’s more likely to be companies which are poised for the recovery in Europe,” he said, adding he favors European banks, among them Deutsche Bank.

Picking the best domestic plays isn’t necessarily easy.

Although not all companies disclose how much of their sales come from emerging markets, Thomson Reuters data shows in 2010 the performance of a portfolio of European stocks with high foreign sales outpaced a basket of domestic-focused firms by 23 percent.

However, so far this year the domestic-centric portfolio has outpaced the overseas exposed basket by 4.8 percent.

The change in sentiment was the result of a mixture of Europe’s improved economic outlook and concerns about inflation and lower returns in emerging markets.

Germany, Europe’s biggest economy, on Wednesday lifted its 2011 economic growth forecast to 2.3 percent from 1.8 percent, while stronger than expected Chinese fourth-quarter GDP raised concerns of further monetary tightening in the world’s second-biggest economy.

In terms of valuations, companies relying on domestic sales may offer better value. The domestic-focused basket of European companies carries a one-year trailing price-to-earnings of 12.7 times versus the portfolio of foreign exposed stocks’s 18.7.

INFLATION FEARS

“Germany is obviously recovering more. At some point, it might become less dramatic between domestic and the emerging market plays. The emerging market plays have gone up quite strong,” said Nick Nelson, equity strategist at UBS.

According to Goldman Sachs, companies with relatively high exposure to the country’s consumers included Axel Springer, Fielmann, Tomra Systems, Suedzucker, Praktiker, Gagfah, Metro and ProSiebenSat1. It also highlights Volkswagen, which has high domestic as well as emerging market exposure.

Some investors have cashed in gains from shares in companies with large developing country sales after their outperformance in 2010, as concerns over inflation in emerging economies grew.

For example, Swatch Group, the world’s largest watchmaker and which Barclays Capital said has about 35 percent of its sales to emerging markets, have fallen 11 percent so far this year after soaring 59 percent in 2010.

“With inflation picking up, we have seen tightening policy in reaction to that which will be a headwind for emerging markets or emerging market-related assets, certainly in the first half of this year,” said Ronan Carr, European equity strategist at Morgan Stanley in London.

Carr said consumer cyclicals that are operating in emerging markets would lose some of their momentum and Morgan Stanley is underweight consumer discretionary. However, he was positive on emerging market exposure as a long-term play. The other issue is that the bet on companies with high emerging market sales has been popular, meaning that the returns on the trade are smaller.

“One of the easy trades of last year was basically buy companies with exposure in emerging markets … based on the fact that growth within developing emerging markets is considerably above developed markets,” said Alec Letchfield, chief investment officer at HSBC Global Asset Management’s private client arm.

Letchfield did not expect policymakers in emerging markets to slam on the brake too fast to derail growth but said the situation had changed. “It’s not the kind of slam dunk that it was perhaps of last year,” he said.

(Editing by David Holmes)
Ekspansi pasar obligasi global melambat ke level sebelum krisis atau perlambatan pertama kalinya sejak 2005 seiring penarikan stimulus pemerintah dan perbaikan kondisi kredit.

Berdasarkan data Bank of America Merrill Lynch, pasar obligasi tumbuh 9,9% pada 2010 dengan nilai US$49,7 triliun. Pertumbuhan itu lebih rendah dari 18,5% pada 2009 ketika para pembuat kebijakan di dunia menggelontorkan garansi surat utang selama krisis keuangan global 2008-2009.

Lemahnya pertumbuhan obligasi dapat mendorong permintaan dari Pemerintah AS hingga perusahaanyang memiliki peringkat obligasi sampah. Imbal hasil obligasi korporasi masuk ke posisi terendah sejak Mei 2010 dan rata-rata melonjak 21% dari rekor terendah Oktober 2008.

Sumber : BISNIS.COM

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: