Skip to content

beautiful: S&P kasi IG donK … 280412

March 29, 2012

Inilah Alasan S&P Enggan Berikan Investment Grade

Oleh:
ekonomi – Jumat, 27 April 2012 | 14:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah hingga kini masih penasaran, mengapa Standard and Poor’s (S&P) enggan memberikan peringkat investment grade untuk Indonesia. Maklum saja, dua lembaga rating, yakni Fitch dan Moody’s sudah menganugerahkannya sejak lama.

Lalu, apa alasan S&P bertahan hanya mau memberikan peringkat BB+. Financial Times mengabarkan, beberapa waktu lalu analis S&P menyampaikan alasannya. Berikut di antaranya:

Rating kredit untuk Indonesia didasarkan pada pendapatan perkapita yang masih rendah, adanya hambatan yang bersifat struktural dan institusional yang mengganjal pertumbuhan ekonomi yang tinggi, masih tingginya utang swasta, dan rendahnya pasar modal. Rating yang diberikan S&P didukung oleh minimnya laporan pemerintah pusat mengenai defisit fiskal, penurunan beban utang, penguatan likuiditas eksternal, dan performa ekonomi yang mulai pulih.

Menurut analis S&P, tak ada yang baru dari faktor-faktor itu. Lalu apa yang berubah di Indonesia? Politik memang ada perubahan. Namun, S&P menyatakan, “Kami hanya melihat sedikit perubahan kebijakan sejak Suharto terguling. Banyak kebijakan tidak bisa dijalankan. Misalnya, kebijakan penaikan tarif dasar listrik, pemotongan subsidi BBM, dan penerapan kebijakan industri dan perdagangan. Hal ini memunculkan ketidakpastian kebijakan.”

Pekan lalu, kerusuhan pecah di Jakarta ketika pemerintah hendak menaikkan harga BBM bersubsidi. Di sisi lain, pemerintah berniat menerapkan bea keluar untuk ekspor barang tambang, namun inipun tidak menunjukkan kepastian.

Pemerintah memang menyatakan penanaman modal asing naik 32% pada kuartal I tahun ini. Namun, S&P menilai kebijakan seperti itu memunculkan risiko terhadap investasi asing.

Selain itu masih banyak hal yang disoroti investor. Salah satunya, pemilihan umum 2014 mendatang. Pesta demokrasi ini, meskipun masih dua tahun lagi, sudah menjadi perhatian pemodal sejak sekarang. [tjs]

JAKARTA. Indonesia sepertinya harus gigit jari. Pasalnya, Standard & Poor’s memutuskan untuk tidak menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade. Dalam pernyataannya hari ini (23/4), S&P mengkonfirmasi peringkat utang Indonesia tetap berada pada level BB+ dengan outlook positif.

Itu artinya, S&P tidak mengikuti langkah Fitchs Ratings dan Moody’s Investor Service yang sudah terlebih dulu menaikkan peringkat Indonesia ke level investment grade. Mereka beralasan, risiko politik Indonesia semakin meningkat seiring kegagalan pemerintah dalam menaikkan harga BBM bersubsidi.

“Peringkat yang kami sematkan kepada Indonesia menunjukkan kestabilan institusi dan ekonomi dengan kekuatan fiskal, eksternal, dan profil moneter. Outlook positif menunjukkan potensi kenaikan peringkat jika prospek pertumbuhan Indonesia semakin membaik dan pasar finansial semakin mantap dengan implementasi kebijakan yang stabil,” jelas S&P.

http://nasional.kontan.co.id/news/waduh-sp-tak-jadi-menaikkan-peringkat-indonesia/2012/04/23

Sumber : KONTAN.CO.ID
Is It Time to Look Beyond China and India Stocks?
Published: Monday, 19 Mar 2012 | 11:20 PM ET

By: Zhi Ying Ng
CNBC Asia Pacific

With economic growth slowing in both China and India and policymakers facing increasing challenges, analysts tell CNBC that investors should look beyond these two countries for profitable returns in 2012.

As these two economic powerhouses begin to lose some of their competitive edge, experts recommend the economies of Southeast Asia, which have seen a surge in foreign investment and rising incomes in the past few years.

“China is becoming an increasingly expensive place to produce and India is a regulatory quagmire,” Amar Gill, Head of Thematic Research, CLSA, told CNBC. On the other hand, Gill says countries from the Association of South East Asian Nations (ASEAN) are in a “sweet spot.”

“Foreign direct investment (FDI) into ASEAN has tripled in the last three years. This is a region which is gradually integrating, where the buying power of consumers is rising and it is attractive to manufacture and (to build) production bases here,” Gill said.

On the other hand there are growing worries over rising manufacturing wages in China and a policy paralysis in India, which is coming in the way of attracting foreign investment.

“India doesn’t have leeway to move…(it is) in a policy trap right now,” Stephen Roach, former Non-Executive Chairman of Morgan Stanley Asia, told CNBC. “The budget deficit underscores how that trap gets tougher and tougher to get out of.”

On Friday, India’s stock market dropped and bond yields jumped after the government released a budget that lacked bold reforms.

While in China data over the weekend showed the country’s property prices fell for a fifth consecutive month.

Frederic Neumann, Co-Head of Asian Economics Research at HSBC wrote in a report on Monday that investors should take note of the fact that Southeast Asian economics had regained a competitive niche, even as China’s wages were soaring and India’s manufacturing sector suffered from inadequate infrastructure.

Neumann said a declining dependency on external demand coupled with increasing consumption and investment spending has boosted ASEAN economies.

For investors though, betting on Southeast Asia isn’t a slam-dunk case based on their mixed performance this year.

While Vietnam’s stock market is up 25 percent this year, making it the best performer in Asia, other markets in Southeast Asia haven’t fared that well.

Indonesia’s benchmark Jakarta Composite [.JKSE 4154.07 -12.31 (-0.3%) ] has risen only 5 percent this year, while Malaysia’s Kuala Lumpur Stock Exchange [.KLSE 1591.28 — UNCH ] is up 3 percent.

That’s much less than the MSCI Asia ex-Japan Index, which is up 14 percent. On the other hand, India’s Sensex is up 11.8 percent, while China’s Shanghai Composite [.SSEC 2285.78 -20.77 (-0.9%) ] is up 9.6 percent.

Indonesia in particular is the result of strong performance from last year, and concerns right now that some key sectors will be affected if China sees a major slowdown,” Gill told CNBC. “Malaysia might face some political uncertainties ahead of a general election that is expected some time in coming months.”

Despite these challenges, Gill is bullish on the region and says there are a number of companies that have returns on equity of 25 to 30 percent.

Gill’s top picks for the region include Indonesia’s Bank Rakyat, Malaysia’s Public Bank and Thailand’s CP Foods.
Fitch: Indonesia Tetap Layak Investasi

04/04/2012 21:20
Liputan6.com, Jakarta: Lembaga pemeringkat internasional Fitch tetap memberikan peringkat utang Indonesia pada posisi BBB- meski terjadi penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Keputusan untuk menunda kenaikan harga BBM tidak mengubah peringkat kredit Indonesia sebagai negara layak investasi pada posisi BBB-,” demikian siaran pers Fitch Rating yang diterima Antara pada Rabu (4/4).

Namun penundaan tersebut menunjukkan momentum untuk mengubah harga BBM tampaknya akan terhambat saat ini hingga Pemilihan Presiden 2014.

“Upaya untuk menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 33 persen merupakan upaya yang lebih ambisius dibanding perubahan kebijakan subsidi yang dimaksud pemerintah saat kami menaikkan peringkat utang Indonesia pada Desember tahun lalu,” demikian tulis Fitch.

Fitch menilai bila harga BBM bersubsidi dinaikkan, maka akan berdampak positif pada peringkat utang Indonesia, membatasi dampak fiskal karena meningkatnya harga minyak dan menambah fleksibilitas fiskal.

Manfaat tersebut dapat timbul karena pemerintah memiliki hak untuk menaikkan harga BBM di masa depan karena pertimbangan harga minyak dalam negeri dan kondisi yang ditetapkan pada APBN-Perubahan.

“Namun bila pemerintah tidak menaikkan harga, maka rencana pembelian barang modal akan terkena dampak sehingga membatasi kemampuan pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan mengatasi hambatan suplai,” ungkap Fitch.

Fitch mengakui bahwa ada kemungkinan peningkatan inflasi bila harga BBM dinaikkan, namun inflation expectations cenderung tetap tinggi karena perkiraan kenaikan harga.

Profil kredit Indonesia, menurut Fitch, memiliki toleransi yang lebih besar atas kelemahan struktrural dibanding kebijakan moneter yang longgar.

Fitch juga meyakini Bank Indonesia bila dibutuhkan akan memperketat kebijakan moneternya, namun hal tersebut di masa lalu masih menjadi wilayah yang mengkhawatirkan karena bias dalam kebijakan BI.

“Kami memandang bahwa sudah terjadi upaya informal menuju Pemilu 2014 dan hal itu dapat memperlambat kinerja pemerintah dan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya dapat memperkuat profil utang Indonesia dalam jangka panjang,” tambah Fitch.(ANS/Ant)
Pasar Sedikit Kecewa terhadap Rating S&P

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 2 April 2012 | 18:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – IHSG kembali cetak rekor tertinggi tahun ini diikuti dengan pengautan rupiah. Tapi, pasar sebenarnya sedikit kecewa dengan Standard & Poor’s Rating Service (S&P). Mengpa?

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh sentimen pasar yang cukup positif terutama dari eksternal. Salah satunya, para menteri keuangan Uni Eropa telah sepakat untuk menaikan kapasitas dana bailoutnya menjadi 800 miliar euro.

Meskipun, ada sedikit kekhawatiran, karena angka tersebut kurang memenuhi harapan yakni 1 triliun euro. “Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya 9.130 setelah sempat melemah ke level 9.175 dari posisi pembukaan 9.150 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (2/4/2012).

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta,Senin (2/4/2012) ditutup menguat 9 poin (0,09%) ke level 9.130/9.145 dari posisi akhir pekan lalu 9.139/9.149.

Di sisi lain, rupiah juga mendapat dukungan positif setelah China merilis indeks manufaktur yang angkanya cukup positif kemarin. Angkanya jauh di atas ekspektasi sehingga meredakan kekhawatiran atas ekonomi terbersar kedua itu.

Tapi, kata dia, ini juga mengurangi harapan akan adanya pelonggaran moneter lebih lanjut di China. PMI Manufacturing Index China dirilis naik jadi 53,1 per Maret 2012 dari prediksi 50,5 dan dari angka sebelumnya 51. “Karena itu, penguatan rupiah jadi terbatas,” timpalnya.

Pada saat yang sama, terbatasnya pengautan rupiah juga dipicu oleh pasar yang masih mencerna efek dari keputusan paripurna DPR yang menunda penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). “Jadi, meski dari eksternal positif, sentimen pasar variatif secara umum,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kalau berkaca pada keputusan pemerintah untuk menunda penaikan harga BBM, sebenarnya efeknya tidak terlampau signifikan. “Sebab, hal itu hanya penundaan saja. Artinya, penaikan harga BBM masih akan terjadi dan akan menjadi ancaman dalam beberapa bulan mendatang,” timpalnya.

Di sisi lain, pasar juga sedikit kecewa setelah Standard & Poor’s Rating Service (S&P) yang tidak menaikkan peringkat utang Indonesia ke level investment grade. “Sebelumnya sempat beredar harapan, S&P akan menaikkan peringkat Indonesia ke level investment grade (BBB),” paparnya.

Tapi hari ini, Firman menjelaskan, S&P hanya mempertahankan outlook utang Indonesia pada level positif di posisi BB+ dari seharusnya BBB-, tanpa ada kenaikan peringkat. “Ini sedikit mengurangi euforia pasar domestik. Sebab, S&P perlu meninjau lebih lanjut mengenai outlook inflasi Indonesia yang mungkin masih menjadi ancaman,” tandasnya.

Penundaan penaikan harga BBM, memang akan menunda lonjakan inflasi jangka pendek. “Hanya saja, dengan ekspektasi inflasi yang akan meningkat, dalam beberapa pekan terakhir, ini tentunya akan mendongrak inflasi domestik,” imbuh Firman.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama kecuali terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke level 78,890 dari posisi sebelumnya 79,004. “Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat tipis ke level US$1,3352 dari sebelumnya US$1,3357 per euro,” imbuh Firman.

Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, penguatan sebesar 44,52 poin (1,08%) ke angka 4.166,072 dipicu oleh aksi dari investor lokal yang mengikuti jejak pembelian saham dari investor asing. “Betapa tidak, asing sudah berposisi net buy hingga Rp10 triliun dalam sebulan terakhir,” imbuhnya.

Menkeu Minta Rating Bagus dari S&P

Oleh: Agustina Melani
Ekonomi – Kamis, 29 Maret 2012 | 16:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Menteri keuangan Agus Martowardojo mengharapkan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) memberikan penilaian yang baik terhadap ekonomi Indonesia saat ini.

Agus berharap demikian karena hanya S&P saja yang belum memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Beberapa lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch telah memberi peringkat investment grade kepada indonesia.

Investment grade berarti peringkat yang menunjukkan negara memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utangnya. “Kita harap S&P bisa memberikan update yang baik,” tutur Agus di gedung DPR, Jakarta (29/3/2012)

Lebih lanjut Agus menuturkan, pada Rabu (28/3) S&P telah meminta informasi terbaru tentang kondisi fiskal Indonesia saat ini di tengah perlambatan ekonomi dunia yang sedang melanda. “Dia baru minta update info jadi perhatian yang tinggi memang terhadap perkembangan fiskal,” katanya.

Agus menambahkan, usaha pemerintah untuk meredam perlambatan ekonomi global tersebut dengan memperkuat ketahanan fiskal dalm perubahan APBN diapresiasi oleh lembaga tersebut.”Kita melakukan RAPBNP cukup diapresiasi.” [tjs]

Subsidi Dipangkas Demi Investment Grade

Oleh: Agustina Melani
Ekonomi – Kamis, 29 Maret 2012 | 19:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah berharap bisa menjaga defisit untuk memperoleh peringkat investment grade dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P). Salah satunya, dengan memangkas subsidi.

“Salah satunya dengan menjaga subsidi karena dengan adanya subsidi yang membengkak terus itu akan pengaruhi defisit. Intinya investor asing ingin APBN kita itu suistain sehingga kewajiban utang bisa dibayar dengan baik dan tepat waktu,” ujar Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto, saat ditemui wartawan di gedung DPR RI, Kamis (29/3/2012).

Ia mengatakan, bila ada pengurangan beban subsidi dengan cara apapun maka dapat memberikan dampak positif sebagai untuk kepercayaan pasar. Rahmat mengatakan, ekonomi Indonesia Indonesia memang dilihat cukup baik oleh investor asing. Hal itu didukung dari potensi penerimaan negara yang terus naik dan belanja efisien. Sehingga Indonesia diharapkan dapat menjaga defisitnya.

Sebelumnya, Menteri keuangan Agus Martowardojo mengharapkan S&P memberikan penilaian yang baik terhadap ekonomi yang terjadi pada Indonesia saat ini. Agus berharap demikian karena hanya S&P yang belum memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Beberapa lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch telah memberi peringkat investment grade kepada indonesia.

Investment grade berarti peringkat yang menunjukkan negara memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utangnya.”Kita harap S&P bisa memberikan update yang baik,” tutur Agus di gedung DPR, Jakarta (29/3/2012). [tjs]

JAKARTA – Pemerintah berharap lembaga pemeringkat internasional Standart and Poor (S&P) dapat memberikan label investment grade kepada Indonesia, karena hingga saat ini S&P belum juga memberikan label investment grade kepada Indonesia.

“Kita harap S&P bisa memberikan update yang baik,” ungkap Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo kala ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3/2012).

Menurut Agus, kemarin, Rabu 28 Maret, S&P telah meminta informasi terbaru tentang kondisi fiskal Indonesia saat ini di tengah perlambatan ekonomi dunia yang sedang melanda. “Dia baru minta update info jadi perhatian yang tinggi memang terhadap perkembangan fiskal,” paparnya.

Agus menjelaskan, usaha pemerintah untuk meredam perlambatan ekonomi global tersebut dengan memperkuat ketahanan fiskal dalam perubahan APBN diapresiasi oleh S&P sendiri. “Kita melakukan rancangan APBN Perubahan ini cukup diapresiasi,” pungkasnya.

Sekadar informasi, beberapa lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch telah memberi gelar investment grade kepada Indonesia. Salah satu alasan gelar tersebut diberikan karena ketahanan fiskal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat di tengah krisis ekonomi tingkat global saat ini.

http://economy.okezone.com/read/2012/03/29/20/601957/menkeu-berharap-s-p-segera-ganjar-ri-investment-grade

Sumber : OKEZONE.COM

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: