Skip to content

playboy: recovery (140) … 260911

September 26, 2011

WASHINGTON– Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) berjanji mengambil tindakan tegas untuk mengatasi krisis utang zona euro dan mendukung ekonomi global.

Tindakan tersebut diharapkan bukan hanya dari lembaga donor internasional itu, melainkan juga dari negara-negara yang dianggap menjadi penggerak ekonomi dunia termasuk China, Amerika Serikat (AS), dan Brasil. IMF mengatakan telah sepakat akan bertindak tegas guna memulihkan kepercayaan dan stabilitas keuangan serta menghidupkan kembali pertumbuhan global. Di samping itu, para pemimpin Eropa akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan guna mencegah peningkatan utang di saat krisis.

Namun, kekhawatiran masih timbul pada negara-negara maju.Pasalnya, masalah krisis sudah merugikan banyak pihak terutama menyebabkan surplus likuiditas makanan,kenaikan harga minyak yang disertai volatilitas pasar keuangan, serta pemotongan anggaran yang memperlambat pertumbuhan, investasi dan perdagangan. Pada pertemuan kelompok 20 negara maju dan berkembang (G-20) pekan lalu, disepakati bahwa para pemberi pinjaman global akan meninjau sumber daya yang telah tersedia guna mengatasi krisis. Sayangnya G-20 tidak memberikan rincian spesifik mengenai langkah-langkah mengatasi krisis utang Eropa.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyebutkan bahwa kapasitas pinjaman IMF saat ini hampir USD400 miliar. ”Itu lebih dari cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan untuk negaranegara yang rentan krisis,”ujar Lagarde di Washington, akhir pekan lalu. Lagarde juga menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah guna menopang sistem perbankan.Pasalnya, bank yang memegang sejumlah besar utang negara Eropa kini mendapatkan tekanan dari investor yang khawatir mengenai kerugian jika pinjamannya gagal bayar.

”Negara-negara ekonomi maju memastikan bahwa bank memiliki posisi modal yang kuat dan akses ke pendanaan yang memadai,”ujar Lagarde. Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan mengatakan bahwa krisis utang negara Eropa harus segera diselesaikan guna menstabilkan kepercayaan pasar. Sedangkan Menteri Keuangan AS Timothy Geithner menyebut tekanan utang dan ketegangan utang di Eropa merupakan risiko paling serius yang saat ini dihadapi oleh dunia.

Dari negara berkembang, Menteri Keuangan Brasil Guido Mantega meminta pembuat kebijakan Eropa bertanggung jawab memastikan tindakan untuk menghentikan penularan krisis ke luar zona euro.

Perbankan Nasional Tahan Krisis
Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan, industri perbankan nasional secara fundamental masih sangat kuat untuk menghadapi krisis ekonomi global yang berdampak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. ”Kondisi fundamental bank kita sangat baik. Modal bank kuat karena CAR masih tinggi. Begitu pula NPL sangat rendah dan likuiditas juga bagus.Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari situasi yang berkembang saat ini,” kata Muliaman di sela-sela diskusi ”Transparansi Produk,Perlindungan, dan Mediasi Nasabah Perbankan” di Bandung akhir pekan lalu.

Namun,meski secara fundamental bagus, Muliaman meminta perbankan tetap siaga menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai dampak krisis di Eropa dan Amerika Serikat. ”Kita berharap gejolak bisa segera selesai dan bank bisa fokus ke intermediasi, dan bisa bantu mesin ekonomi nasional. Dengan indikator itu,kita bisa punya daya tahan, meski kehatihatian harus tetap ditunjukkan karena ini tidak boleh dianggap remeh,”katanya. Sementara itu, penurunan tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir membuat kalangan analis di pasar saham mengubah proyeksi IHSG akhir tahun ini. Sejumlah analis memperkirakan IHSG hingga akhir tahun hanya berada pada kisaran 3.800–4.000.

”Meskipun fundamental kita masih bagus, untuk kembali ke level 3.900–4.000 butuh waktu yang tidak sedikit.Apalagi, nilai penjualan asing sangat besar, terutama sejak Agustus lalu,” ujar Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo di Jakarta kemarin. Berdasarkan data transaksi yang terjadi, asing memang melakukan pelepasan besarbesaran sejak Agustus 2011, di mana total transaksi penjualan bersih hingga saat ini telah mendekati Rp14 triliun. Keluarnya asing dipicu kecemasan memburuknya perekonomian global.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/430713

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA

[JAKARTA]Secara fundamental perekonomian Indonesia cukup kuat untuk menangkal dampak krisis global, lagipula krisis saat ini tak separah tahun 2008 lalu. Investor diminta tidak perlu panik, reaktif berlebihan. Mereka diminta untuk tetap bertahan di pasar dengan membeli saham-saham murah serta membelajakan dananya ke reksa dana.

“Dengan fundamental yang kuat, jangan cemas. Mari para investor masuk lagi ke pasar. Termasuk membeli reksa dana saat ini juga bagus, tapi untuk jangka panjang” kata pengamat ekonomi Pasar Modal Iswahyudi Ashari kepada SP, di Jakarta, Senin (26/9)

Menurut Iswahyudi, ancaman krisis global saat ini diyakini tidak akan separah 2008 karena pertumbuhan ekonomi dunia masih positif 4%. Investor tidak perlu panik mengingat fundamental ekonomi RI cukup bagus. Momen kejatuhan indeks selayaknya dimanfaatkan untuk mengoleksi saham-saham murah yang prospektif serta membeli reksa dana.

Pekan ini, indeks saham diperkirakan masih berfluktuasi karena kekhawatiran terjadinya gagal bayar (default) atas utang Yunani. Di tengah fluktuasi pasar yang sangat tajam, investor disarankan menggunakan metode gabungan fundamental dan teknikal dalam bertransaksi.

Secara fundamental, investor bisa memilih saham emiten yang memiliki arus kas sehat, berorientasi pada pasar domestik, dan tidak memiliki beban utang dalam dolar AS. Prediksi pergerakan indeks pekan ini disampaikan Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang, Analis PT Recapital Securities Agustini Hamid, Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priambada, Direktur PT UOB Kay Hian Secutities Stefanus Susanto, Ekonom Senior PT Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, dan Ekonom PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk Samuel Ringo Ringo ketika dihubungi , Sabtu (24/9).

Selain ancaman default atas utang Yunani, sejumlah sentimen negatif dari luar negeri masih membayangi pasar pekan ini, antara lain diturunkannya peringkat utang Bank of America, Citigroup, dan Well Fargo oleh Moodys, belum jelasnya implementasi paket Obama untuk mempercepat pemulihan ekonomi AS, serta perlambatan ekonomi global.

Pekan ini, pelaku pasar Wall Street akan mencermati keluarnya data ekonomi AS tentang belanja konsumen (consumer spending) yang notabene sebagai penyumbang 70% dari PDB AS. Pasar juga menanti keluarnya rilis manufacturing index mengenai penjualan pesawat dan kendaraan bermotor. Namun, sentimen itu akan diimbangi oleh faktor positif dari dalam negeri, seperti prediksi laju inflasi September yang diperkirakan tetap rendah dan outlook kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal III-2011 yang diprediksi tetap kinclong.

Pada bagian lain, Iswahyudi meminta Bapepam untuk berperan mengedukasikan kepada masyarakat agar turut serta berinvestasi di dalam pasar modal atau reksa dana, agar pasar modal kita tidak terlalu bergantung kepada asing. “Pasar modal kita tetap terjaga dan tidak mudah digoyang asing. Asing sewaktu-waktu bisa keluar. Dan begitu asing kleuar lakukan aksi jual massif, langsung pasar modal kita terpuruk,” kata Iswahyudi.

Dia mengajak semua komponen bangsa membangun fundamental perkenomian Indonesia ke arah yang lebih positif. Untuk itu, stabilitas politik dan kemanan mesti dijaga dengan baik. “Mempertahankan Presiden SBY hingga 2014 mutlak dilakukan,” tegasnya. Fauzy Ichsan meyakini, potensi krisis saat ini tidak seperti 2008.

Sebab, yang terjadi saat ini bukan krisis tetapi perlambatan ekonomi global. Ini berbeda dengan 2008 yang mengakibatkan ekonomi global 2009 tumbuh negatif. Dalam World Economy Outlook edisi September 2011, IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2011 dan 2012 masing-masing menjadi 4%, lebih rendah dari ramalan sebelumnya 4,3% dan 4,4%.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi global 2009 yang terempas akibat krisis finansial 2008 tumbuh negatif 0,6%. Yang menarik, di tengah pertumbuhan ekonomi global yang negatif pada 2009, ekonomi RI mampu tumbuh positif 4,58%.

Fauzy meyakini, ekonomi RI mampu tumbuh 6,4%, bahkan lebih, jika realisasi belanja modal pemerintah bisa ditingkatkan. Realisasi belanja modal per Agustus 2011 baru 26%. Masih Bergejolak Edwin, dan Stefanus memprediksi, IHSG masih bergejolak, pekan ini. Alasannya, belum ada perubahan yang ditawarkan Eropa dan AS untuk keluar dari ancaman krisis.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, semalam, mengatakan kekuatan dana IMF sebesar US$ 384 miliar kemungkinan tak akan cukup untuk memenuhi semua permintaan bantuan kalau perekonomian dunia memburuk. IMF, kata Lagarde, siap mendukung negara-negara Eropa dalam mengatasi krisis utang. Namun, negara-negara maju harus mengadopsi kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki kondisi keuangannya.

“Negara-negara maju menjadi ujung tombak penuntasan ketidakpastian global saat ini,” ujarnya dalam pertemuan tahunan di Washington, AS, semalam, seperti dikutip Reuters.

http://www.suarapembaruan.com/ekonomidanbisnis/krisis-tak-separah-2008-investor-diminta-tetap-bertahan/11644

Sumber : SUARAPEMBARUAN.COM

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: