Skip to content

I heart you: recovery (21) … 160811

August 14, 2011

Warren Buffet, salah satu dari tiga orang terkaya di dunia menyerukan pengenaan pajak yang lebih tinggi bagi dirinya dan orang-orang kaya lainnya. Ia berharap orang-orang mampu seperti dirinya bisa memberikan kontribusi lebih besar ke negara.

“Teman-teman saya dan saya telah cukup lama dimanjakan oleh kongres yang ramah terhadap para milyuner. Sudah waktunya bagi pemerintah kita untuk serius tentang pengorbanan bersama ini,” kata Buffet seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/8/2011).

Seruan Buffet itu disampaikan dalam halaman di New York Times. Seruan salah salah satu orang berpengaruh di pasar modal ini sebenarnya bukan hal yang baru. Pada November lalu, dalam sebuah wawancara panjang dengan ABC News, dia bersikeras bahwa orang kaya “memilikinya lebih baik dari yang pernah mereka punya” dan mereka memiliki kewajiban untuk membayar pajak lebih substansial.

Namun seruan terakhir Buffet bisa menyita perhatian orang. Para anggota parlemen AS kini sedang berjuang tentang bagaimana mengurangi defisit anggaran negara dan membatasi beban utang yang sangat besar, dan pertanyaan “penerimaan tambahan” – kode untuk pajak yang lebih tinggi – mengambil porsi lebih besar dari yang lain.

Partai Republik telah menolak keras setiap upaya oleh Presiden Barack Obama dan para Demokrat di Kongres untuk mengenakan pajak yang tinggi bagi orang-orang kaya dalam bagian rencana anggaran, bukan menekankan pada semua langkah-langkah membatasi defisit dilakukan melalui pemotongan belanja.

Pajak akan menjadi tema utama pemilihan presiden 2012, dan Buffett menempatkan dirinya tepat di tengah-tengah perdebatan itu.

“Sementara masyarakat miskin dan kelas menengah bertarung bagi kita di Afghanistan, dan sementara kebanyakan orang Amerika berjuang untuk memenuhi kebutuhan, kita para orang-orang sangat kaya terus mendapatkan keringanan pajak yang luar biasa,” tulisnya.

Seruan pengenaan pajak yang lebih tinggi tersebut tidak hanya disampaikan Buffet. Kepala Eksekutif Starbucks Corp Howard Schultz memberi dukungan untuk seruannya agar menahan kontribusi politik untuk anggota parlemen AS sampai mereka meluncurkan kesepakatan yang adil dan merata untuk masalah pendapatan, utang dan pengeluaran negara.

Buffet merasa bebas untuk berbicara bagi orang yang sama-sama kaya sepertinya.

“Kebanyakan tidak keberatan disuruh membayar pajak lebih banyak juga, terutama ketika begitu banyak sesama warga mereka benar-benar menderita,” katanya.

Dari masyarakat pembayar pajak umum, reaksinya hampir seketika terhadap tulisan Buffet tersebut. “Warren Buffett” adalah salah satu topik yang paling disebutkan di Twitter pada Senin (15/8/2011) sore, sama seperti judul dari op-ed karyanya, “Berhenti memanjakan orang-orang super-kaya.” Hampir 55.000 orang memberikan suara dalam jajak pendapat MSNBC.com pada komentar, dan 95 persen setuju dengan dia.

Presiden Obama, muncul di Minnesota pada tur bus Midwest AS, mengutip komentar Buffett sebagai bukti lebih lanjut bahwa Kongres perlu menemukan cara untuk meningkatkan penerimaan pajak tanpa pajak kelas menengah lebih lanjut.

Buffett, pimpinan konglomerasi Berkshire Hathaway, mengatakan tagihan pajaknya pada tahun lalu adalah US$ 6.938.744, setara dengan 64 saham Kelas A Berkshire.

“Itu terdengar seperti banyak uang. Tapi apa yang saya bayar hanya 17,4% dari pendapatan kena pajak saya – dan itu sebenarnya persentase yang lebih rendah daripada yang dibayar oleh salah satu dari 20 orang lainnya di kantor kami. Beban pajak mereka berkisar dari 33% menjadi 41% dan rata-rata 36%,” ujar Buffet.

Sumber: detikcom
TOP NEWS

Stop coddling the super-rich: Buffett

Posted 2011/08/15 at 4:45 am EDT

Aug. 15, 2011 (Reuters) — Billionaire Warren Buffett urged lawmakers to raise taxes on the country’s super-rich to help cut the budget deficit, saying such a move will not hurt investments.
Berkshire Hathaway chairman and CEO Warren Buffett attends the second day of the Allen and Company Sun Valley Conference in Sun Valley, Idaho July 7, 2011. REUTERS/Anthony Bolante

“My friends and I have been coddled long enough by a billionaire-friendly Congress. It’s time for our government to get serious about shared sacrifice,” The 80-year-old “Oracle of Omaha” wrote in an opinion article in The New York Times.

Buffett, one of the world’s richest men and chairman of conglomerate Berkshire Hathaway Inc , said his federal tax bill last year was $6,938,744.

“That sounds like a lot of money. But what I paid was only 17.4 percent of my taxable income – and that’s actually a lower percentage than was paid by any of the other 20 people in our office. Their tax burdens ranged from 33 percent to 41 percent and averaged 36 percent,” he said.

Lawmakers engaged in a partisan battle over spending and taxes for more than three months before agreeing on August 2 to raise the $14.3 trillion U.S. debt ceiling, avoiding a U.S. default.

“Americans are rapidly losing faith in the ability of Congress to deal with our country’s fiscal problems. Only action that is immediate, real and very substantial will prevent that doubt from morphing into hopelessness,” Buffett said.

Buffett said higher taxes for the rich will not discourage investment.

“I have worked with investors for 60 years and I have yet to see anyone – not even when capital gains rates were 39.9 percent in 1976-77 – shy away from a sensible investment because of the tax rate on the potential gain,” he said

“People invest to make money, and potential taxes have never scared them off.”

(Reporting by Santosh Nadgir; Editing by David Holmes)

Pasar-pasar dunia memasuki wilayah berbahaya baru, kata Presiden Bank Dunia World Robert Zoellick pada sebuah seminar di Sydney Australia, Minggu (14/8).

Dia mengatakan para penanam modal kehilangan kepercayaan kepada pemimpin sejumlah negara penting.

Ketika berbicara pada pertemuan Asia Society, Zoellick juga mengatakan ekonomi dunia sedang mengalami “perbaikan sangat cepat”.

Negara-negara berkembang sekarang menjadi sumber pertumbuhan dan kesempatan, katanya.

Dalam dua minggu terakhir pasar saham dunia anjlok karena kekhawatiran terhadap negara-negara besar.

Amerika Serikat kehilangan peringkat hutang AAA Standard & Poor untuk pertama kali dalam sejarah karena terjadi pertikaian di Kongres tentang rencana menaikkan batas atas utang AS.

Di Eropa, muncul kabar peringkat Prancis juga akan diturunkan, meskipun kemudian disangkal. Sementara Italia mengumumkan rencana penghematan kedua dalam beberapa bulan terakhir.

“Yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir adalah berbagai peristiwa di Eropa dan AS yang menyebabkan sejumlah pelaku pasar kehilangan kepercayaan kepada kepemimpinan ekonomi sejumlah negara penting,” kata Zoellick.

“Saya pikir berbagai kejadian ini disamping sejumlah kerapuhan perbaikan membuat kita memasuki zona bahaya baru.”

Dia menekankan hal ini agar para pembuat kebijakan menangani masalah dengan serius.

Dalam kaitannya dengan AS, Zoellick mengatakan pasar tidak khawatir ekonomi terbesar dunia itu akan menghadapi masalah dalam waktu dekat, tetapi pasar sudah terbiasa terhadap AS “yang memainkan peran kunci dalam sistim ekonomi dan kepemimpinan”.

Zona euro menghadapi masalah yang lebih serius karena sejumlah anggota “terus mengalami masalah”.

Tetapi Zoellick mengatakan Australia dalam keadaan yang lebih baik dibandingkan negara maju lain karena sudah melakukan perbaikan struktural.

Dalam kaitannya dengan China, presiden Bank Dunia mengatakan apresiasi yuan akan membantu mengurangi tekanan inflasi.

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/15/250962/4/2/Bank-Dunia-Pasar-Dunia-dalam-Bahaya

Sumber : MEDIA INDONESIA
Krisis AS dan Prospek Perekonomian Kita
Kamis, 11 Agustus 2011 10:49 wib

Banyak kekhawatiran muncul pascapenurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standar & Poor’s (S&P) dari AAA menjadi AA+. Nouriel Roubini, profesor dari New York University, memprediksi AS akan mengalami krisis lanjutan (double-dip crisis).

Ibarat orang sakit yang sudah diinjeksi dan digelontor obat, tetap saja kondisinya tidak segera pulih. Pemulihan sementara hanya tergantung pada stimulus fiskal (penerbitan obligasi pemerintah) dan moneter (suku bunga 0,25 persen).

Dalam situasi ekonomi berkekurangan darah (anemic), jika dihantam gejolak, risikonya bisa fatal. Menanggapi perkembangan ini, paling tidak ada dua pertanyaan yang menarik diajukan. Pertama, bagaimana skenario pemulihan ekonomi AS. Kedua, secara lebih spesifik, apa dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

Krisis lanjutan di AS ini boleh dibilang lebih gawat dari krisis 2007/2008. Waktu itu, yang kolaps adalah lembaga-lembaga keuangan yang merembet ke beberapa sektor riil. Beberapa langkah yang ditempuh, di antaranya melakukan merger dan akuisisi, likuidasi, dan bailout.

Bahkan bailout juga melibatkan tiga perusahaan automotif ternama (Ford, Chevrolet, Chrysler) atau dikenal sebagai “Trio Detroit”. Banyak perusahaan yang kolaps pada waktu itu, kini segar kembali. Pada 2011 ini kinerja Ford bahkan diprediksi melampaui Toyota. Kebangkitan kembali sektor swasta AS dibayar sangat mahal, karena kini pemerintah yang mengalami “gagal bayar”.

Rasio utang pemerintah terhadap perekonomian (PDB) nyaris menyentuh 100 persen, sementara tingkat defisit juga sudah sangat tinggi (sekira 10 persen). Puncaknya, penurunan rating oleh Dagong Credit Rating Agency (China) dan Standard and Poor’s (AS).

Pasar Modal

Penurunan peringkat utang tentu sangat memengaruhi investor di pasar keuangan. Hampir semua pasar modal di seluruh dunia mengalami penurunan. Bursa Asia juga tak kalah seru penurunannya. Indeks Kospi (Korea Selatan) mengalami penurunan nyaris 10 persen.

Demikian pula dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami fase bearish cukup panjang. Walaupun kemarin bangkit kembali dengan kenaikan 128,46 poin yang didorong optimisme investor terhadap perekonomian global setelah The Fed mempertahankan suku bunga yang rendah.

Namun, kekhawatiran masih tetap ada, karena perilaku investor sangat dipengaruhi oleh faktor kepanikan, bukan kalkulasi rasional. Di AS, krisis bahkan sebegitu seriusnya, karena menyangkut kepercayaan investor terhadap otoritas (pemerintah). Sebenarnya, apa yang salah jika rasio utang AS melebihi 100 persen? Jepang bahkan memiliki rasio utang sekira 200 persen.

Tetapi, investor tidak mengalami kepanikan. Masalah paling mendasar dari perekonomian AS, ketidakpastian situasi ekonomi diikuti dengan ketidakpastian politik. Para investor tidak melihat prospek pemulihan ekonomi, selama pertikaian antara kubu Demokrat dan Republik masih terus berlangsung.

Meski mereka sepakat menaikkan pagu utang AS, tetapi Republik berhasil mendesakkan agenda untuk mengurangi defisit sebesar USD2,4 triliun selama 10 tahun ke depan. Dalam siaran persnya setebal delapan halaman, S&P menyebutkan alasan penurunan peringkat utang adalah soal efektivitas, stabilitas, dan kepastian pengambilan keputusan serta institusi politik AS terkait dengan tantangan perekonomian ke depan, serta kondisi fiskal.

Pertimbangan penting penurunan rating adalah ketidakpastian politik. Dengan ruang gerak yang sangat terbatas, sulit bagi pemerintah untuk melakukan stimulus ekonomi. Karena itu, secara teoritis, nilai investasi dalam bentuk dolar AS menurun. Peringkat utang AS berada di bawah Jerman misalnya.

Namun, dalam kenyataannya investor masih tetap memegang obligasi AS dengan tingkat bunga yang tidak berubah. Artinya, pasar modal bergerak di luar logika yang linear. Mereka panik terhadap penurunan rating utang AS, tetapi mereka tetap memegang instrumen investasi AS.

Dampaknya bagi Indonesia

Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya terakhir berjudul Monitor Pasar Modal Asia menyatakan, Indonesia termasuk negara yang secara umum tidak terlalu terpengaruh terhadap dinamika perekonomian AS. Meskipun begitu, ada dua tekanan yang bisa memberikan “efek balik”.

Pertama, akibat membanjirnya likuiditas dari negara maju ke negara berkembang, termasuk Indonesia, inflasi diperkirakan akan meningkat. Kedua, potensi ekspor akan menurun seiring melemahkan perekonomian AS dan kawasan Eropa. Menurut Weekly Debt Highlights edisi (8/08/2011), terbitan ADB, Indonesia mengalami penurunan tekanan inflasi pada Juli. Atau menurun dari 5,5 persen menjadi 4,6 persen untuk periode tahunan (year-on-year/yo-y).

Sementara laju pertumbuhan mencapai 6,5 persen pada kuartal kedua 2011, atau sama dengan laju pertumbuhan pada kuartal pertama tahun yang sama. Ekspor juga meningkat 49,3 persen y-o-y menjadi USD18,4 miliar pada Juni. Dengan kondisi fundamental yang cukup solid, sepertinya Indonesia tetap akan diminati investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Meski demikian, harus tetap ada kewaspadaan yang prima terkait kondisi terakhir ini. Pertama, gejolak nilai tukar yang mencerminkan arus modal asing masuk dan keluar harus dikelola secara memadai. Kedua, harus lebih banyak instrumen keuangan yang tersedia, sehingga jika ada aliran modal masuk, terdiversifikasi ke beberapa basis investasi.

Hal yang juga penting adalah memperkuat fundamental ekonomi supaya tidak mudah goyah oleh gejolak di pasar keuangan. Proporsi pasar obligasi terhadap PDB di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan negaranegara lain atau baru mencapai 14,9 persen. Bandingkan misalnya, Malaysia (98,6 persen), Thailand (66,8 persen), Singapura (75 persen).

Jangan sampai, sektor keuangan yang proporsinya masih kecil tersebut membuat fundamental ekonomi terombang-ambing. Jika itu terjadi, perekonomian kita memang benar-benar rapuh.

A PRASETYANTOKO
Kepala Institute for Research & Social Service Universitas Atmajaya Yogyakarta
(Koran SI/Koran SI/ade)

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: