Skip to content

ya sudah lah: inflasi ala indonMcD… 300111

January 29, 2011


Lies, flame-grilled lies and statistics
What do burger prices tell us about the reliability of official inflation figures?
The McFlation index Jan 27th 2011 | from PRINT EDITION

INFLATION is creeping up around the globe. But in many countries, ordinary folk as well as investment analysts suspect that governments are fiddling the figures for political reasons, and that the true inflation rate is much higher than officially reported. Argentina’s inflation rate is the hardest to swallow. According to the government, consumer prices rose by 10.9% in the year to December, but private-sector economists estimate the true increase to be at least twice as much. In China, too, many claim that the government’s figures hugely understate increases in the cost of living.

Economists disagree on the best way to measure consumer-price inflation. How often should the relative weights be changed? How should one take account of quality improvements? One reason why the Chinese may think their cost of living is rising so quickly is that consumers are moving upmarket—for example, from the local dumpling stand to a restaurant. That increases households’ spending, but is not inflation.

If you find the theory of price indices hard to digest, why not rely on simple burgernomics? The Economist’s Big Mac index was devised as a lighthearted gauge to whether currencies are under- or overvalued, but Jonathan Anderson, an economist at UBS, suggests that it can also be used to cross-check official inflation rates. Consisting of food, materials, wages and rent, the McDonald’s Big Mac offers a handy consumer-price basket, whose composition has hardly changed over time.

We have compared prices late last year with those ten years earlier in a selection of countries. For example, the price of a Big Mac in China rose by an annual average of 3.7%, against the reported inflation rate of 2.3%. Is this evidence that the government is underreporting inflation? Not necessarily; the discrepancy is roughly the same as in America (see chart). One might expect burger inflation to exceed overall inflation because food prices have risen faster than other prices. Yet in Russia and Indonesia, Big Mac prices rose by a lot less than the official price index, possibly suggesting that the governments’ figures overstate inflation.

However, burgernomics does support claims that Argentina’s government is cooking the books. The gap between its average annual rate of burger inflation (19%) and its official rate (10%) is far bigger than in any other country. Its government deserves a good grilling.

from PRINT EDITION | Finance and Economics

Inflasi Ancam 25 Negara

Oleh: Asteria
Ekonomi – Minggu, 30 Januari 2011 | 11:11 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Inflasi dari pangan saat ini menjadi momok bagi sebagian besar negara dunia. Setelah berkontribusi menggulingkan pemerintah Tunisia, memicu kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara, meningkatkan biaya di China dan India, dan lainnya.

Dunia menghadapi masalah besar inflasi, akibat gagalnya hasil pangan dan buruknya kebijakan moneter. PerisetNomura pun melaporkan hasil penelitian yang rinci dari negara-negara yang akan hancur dalam krisis pangan.

Penghitungan ini mengkalkulasi 3 variabel, yakni kapita per PDB yang lebih tinggi, dengan angka yang lebih baik menunjukkan kelebihan yang bisa dibelanjakan konsumen.

Persentase rendah dari pendapatan yang dibelanjakan untuk makanan, juga lebih baik. Demikian juga bila lebih banyak makanan yang diekspor, karena menunjukkan kelebihan untuk konsumsi domestik.

Adapun deskripsi untuk krisis pangan adalah lonjakan harga yang berkepanjangan. Penilaian ini menghitung negara-negara yang paling kehilangan, dengan formula nominal GDP per kapita dalam dolar AS terhadap nilai tukar pasar, porsi makanan dalam total konsumsi rumah tangga serta ekspor makanan bersih secara persentase dari GDP.

Dari 25 negara yang dinilai paling rentan terhadap inflasi, terbanyak berasal dari Afrika mencapai 8 negara. Kemudian 5 negara dari Asia Selatan, Eropa Timur 4 negara. Sedangkan Timur tengah, Amerika Selatan serta Asia Tenggara masing-masing 2 negara.

Adapun dilihat dari 10 besar, kawasan Asia Selatan, Afrika dan Timur Tengah memimpin. Misalkan saja Bangladesh, yang menempati urutan pertama negara yang rawan inflasi. PDB per kapita di negara ini mencapai US$497, dengan jumlah makanan dalam total konsumsi rumah tangga sebesar 53,8% dan ekspor makanan net (dalam persentase PDB) sangat minim, yakni minus 3,3%.

Tiga negara selanjutnya terletak di benua Afrika, yakni Maroko, Algeria dan Nigeria. PDB Maroko tidak telalu besar mencapai US$2,769 dengan jumlah makanan dalam total konsumsi rumah tangga cukup tinggi 63%, menandakan banyaknya dana yang dihabiskan untuk makanan.

Demikian juga Algeria dengan PDB US$4,845 dan total konsumsi rumah tangga 53% serta Nigeria, dengan PDB US$1,370 dan total konsumsi rumah tangga 73%.

Namun, ekspor makanan net (dalam persentase PDB) di tiga negara ini justru minus, dimana Maroko, Algeria dan Nigeria masing-masing mencatat minus 2,1%, minus 2,8% dan minus 0,9%.

Sedangkan dua negara berikutnya berasal dari Timur Tengah, yaitu Libanon dan Mesir. Dengan PDB mencapai US$6,978 dan US$1,991, kedua negara ini cukup banyak kebutuhan makanannya, sebesar 34% dan 48,1%. Sedangkan ekspor bersih makanan Libanon dan Mesir tercatat minus, -3,9% dan -2,1%.

Di urutan ke tujuh, Sri Lanka juga termasuk negara rawan inflasi. Demikian juga Sudan dan Azerbaijan. Hanya satu negara Asia Timur yang masuk 10 besar berpotensi besar terdampak inflasi, yakni Hong Kong. Dengan PDB per kapita US$30,863, jumlah makanan dalam total konsumsi rumah tangga mencapai 25,8% dan ekspor bersih minus 4,4%.

Sepuluh negara selanjutnya yang dinilai rawan inflasi berturut-turut adalah Angola, Rumania, Filipina, Kenya, Pakistan, Libya, Rep Dominik, Tunisia, Bulgaria, dan Ukraina. Sedangkan 5 negara yang berada dalam urutan terakhir dalam 25 besar negara berpotensi inflasi adalah India, China, Lativia, Vietnam dan Venezuela.

China memiliki PDB per kapita US$3.267, dengan jumlah makanan dalam total konsumsi rumah tangga 39,8% dan ekspor makanan net (dalam persentase PDB) minus 0,3%. Sedangkan India memiliki PDB per kapita US$1,017, dan ketergantungan terhadap makanan 49,5%. Ekspor bersih makanan 0,3%. India adalah satu dari tiga negara selain Ukraina dan Vietnam, yang memiliki ekspor positif, yakni ada kelebihan untuk konsumsi domestik.

Adapun Venezuela menjadi negara yang paling jauh terimbas inflasi, dengan PDB cukup besar mencapai US$11,246, jumlah makanan dalam total konsumsi rumah tangga 32.6% dan ekspor makanan minus 1%. [mdr]

Duh, Harga Burger Bakal Lebih Mahal

Oleh: Asteria
Ekonomi – Selasa, 25 Januari 2011 | 21:58 WIB

INILAH.COM, Los Angeles – Bersiaplah membayar lebih mahal untuk burger. Karena kenaikan harga komoditas telah memaksa industri restoran cepat saji, seperti Mc Donald’s menaikkan harga menu makanannya.

Mc Donald’s berencana menaikkan harga tahun ini untuk menutupi biaya bahan pangan. Harga rata-rata yang harus dibayar McDonald’s untuk bahan yang paling banyak digunakan, seperti ayam, gandum dan keju, diperkirakan naik 2% menjadi 2,5% tahun ini. Kenaikan sebesar ini akan terjadi di AS. Sedangkan di Eropa, harga akan naik dari 3,5% menjadi 4,5%.

“Tekanan harga komoditas dan biaya lain telah membebani sepanjang tahun, sehingga kami mungkin akan menaikkan harga untuk mengimbanginya. Namun, belum tentu semuanya mengalami kenaikan harga,” kata Kepala keuangan Ms Donald’s, Peter J. Bensen.

Peritel hamburger yang berlokasi di Oak Brook, Illinois ini menekankan, bahwa setiap kenaikan harga tidak akan di terjadi pada seluruh menu. McDonald’s berencana melihat menaikkan harga item tertentu,sembari mengingat bahwa konsumen dapat beralih ke peritel burger lain , untuk harga yang lebi murah, terutama sebagai akibat dari resesi yang mendalam.

“Pengunjung di seluruh dunia sebaiknya berhati-hati dengan pengeluaran untuk makanan di luar rumah, dan McDonald’s akan berhati-hati dengan tidak membuat pelanggan pergi karena harga yang mahal,”ujar Bensen.

McDonald’s menaikkan harga tahun lalu di China untuk mengimbangi peningkatan biaya komoditas di sana. Selain meningkatkan harga di Inggris untuk menutupi kenaikan pajak pertambahan nilai pada 1 Januari.

Analis memperkirakan McDonald’s akan membuat kenaikan lebih kecil dari para saingannya, karena perusahaan diperkirakan akan memanfaatkan keunggulannya.

“Mereka cukup besar untuk menekan pemasok atau mungkin mengubah porsi. Mereka akan mencoba melewati beberapa hal sebelum sampai ke konsumen,” kata Peter Jankovskis, co-chief investasi pada Oakbrook Investment.

McDonald’s adalah pemain yang kuat pada saat inflasi. John Ivankoe, analis JP Morgan mengatakan dalam catatan kepada klien bahwa McDonald’s adalah saham yang paling tidak sensitif terhadap komoditas. Hal ini dilihar dari sudut pandang laba per saham.

Renovasi toko, menambah varian menu dan makanan baru seperti latte dan smoothies, menarik pengunjung dan membantu meningkatkan pangsa pasar kuartal terakhir.

Namun, McDonald’s ternyata tidak sendiri. Jika peritel restoran terbesar dunia dari penjualan ini saja merencanakan kenaikan harga, maka konsumen seharusnya dapat melihat kenaikan biaya makanan di mana-mana.

Industri restoran diharapkan menaikkan harga untuk menghadapi biaya komoditas. Apalagi toko bahan makanan sudah menaikkan harga tahun lalu.

Semua perusahaan makanan kemasan utama, termasuk Kraft Foods Inc dari Northfield, Illinois, dan Sara Lee Corp Downers Grove, Illinois, telah memperingatkan harga yang lebih tinggi pada tahun ini.

Ron Paul, kepala Technomic perusahaan konsultan industri restoran yang berbasis di Chicago mengatakan, ada ekspektasi biaya komoditas akan lebih tinggi, dan restoran harus melewati hal-hal tersebut.

“Konsumen sudah melihat mereka di toko kelontong, jadi tidak akan menjadi kejutan.” Technomic memperkirakan harga-harga di restoran akan meningkat untuk seluruh menu tahun ini, sebesar 2,5% hingga 3%. [mdr]

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: