Skip to content

ya sudah lah: asia jangan demam panggung … 301110

November 29, 2010

Dana Asing Masuk Obligasi Asia Capai US$5,1 T
Headline

Oleh:
Ekonomi – Senin, 29 November 2010 | 14:35 WIB

INILAH.COM, Manila – Arus dana asing yang menyerbu pasar obligasi di negara berkembang khususnya Asia Timur pada kuartal III mencapai US$5,1 triliun.

Demikian dikatakan Heads ADB’s Office of Regional Economic Integration, Iwan Azis di Manila Senin (29/11) sperti dilansir dari finance.yahoo.com. Meskipun kondisi ini diwarnai dengan kekhawatiran masing-masing negara kalau mata uang mereka naik terlalu tinggi. “Perusahaan memanfaatkan peluang untuk mengumpulkan uang dari pasar mata uang Asia untuk obligasi lokal sesuai dengan permintaan para investor terhadap obligasi di Asia Timur,” katanya.

Dalam data ADB ini, juga dirilis nilai obligasi yang masih ke masing-masing mata uang negara mencapai US$4,8 triliun pada periode April-Juni atau naik 17,2% dari tahun sebelumnya.

Azis melanjutkan investor global tertarik dengan obligasi Asia karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dan suku bunga yang lebih tinggi dibandingan denan negara maju. Suku bunga mereka mengalami rekor terendah setelah krisis global. Pasar Asia Timur antara lain China, Hong Kong, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Investor obligasi, jelasnya, belum terpengaruh kebijakan yang diambi beberapa negara Asia Timur untuk memperlambat jumlah dana asing yang masuk ke pasar mereka. Mereka khawatir masuknya dana asing akan mengorong mata uang mereka naik drastis. Hal ini melemahkan produk mereka menjadi lebih mahal di luar negeri.

Ini akan membahayakan sistem keuangan mereka. Kekhawatiran ini dialami oleh negara yang menggantungkan pada ekspor produk dalam negeri. [hid]

Defisit besar-besaran terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa akibat imbas dari krisis lalu justru berbanding terbalik dengan surplus besar yang terjadi di Asia.

Hal ini disinyalir karena negara-negara Asia terutama China ‘rajin menabung’. Mereka lebih banyak melakukan ekspor dan sedikit melakukan impor dan investasi. Inilah membuat global imbalance, karena di AS dan Eropa tidak memliki modal untuk mengolah raw material, sehingga nilai tukar dolar Amerika menjadi turun.

”Solusinya adalah China harus melakukan evaluasi pada renminbi-nya,” ungkap pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) pada acara Economic Outlook 2011 ‘Memanfaatkan Momentum Investasi & Ekpansi’ di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (29/11/2010).

Menurutnya, dengan adanya pelemahan dolar justru tentu akan mengurangi investor. ”Untuk negara Asia lainnya mereka harus bersedia mengorbankan investasi jangka pendek ke jangka panjang, namun tidak mungkin ada negara yang mau mengorbankan hot money tersebut,” ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri? Chatib pun mengemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan Indonesia, pertama membiarkan exchange rate menguat melalui mekanisme pasar, kedua adalah mengubah SBI sehinga para investor akan beralih ke SUN, ketiga adalah melaksanakan ekstensi capital. “Namun jika dengan ekstensi capital prosesnya terlalu lama, karena harus melewati parlemen,” tandasnya.

Selain itu, dia juga mengatakan bisa juga dengan memperketat fiskal (tight fiscal). ”Masalahnya adalah absorb yang limited, listrik dan infrastruktur sendiri masih belum mendukung, tapi inilah saat yang tepat untuk membayar utang,” tandasnya.

Sumber : OKEZONE.COM
Perekonomian dunia kini berada dalam super-cycle (siklus-super). Ini adalah masa pertumbuhan global historis yang tinggi, yang berlangsung satu generasi atau lebih. Super-cycle yang ditandai dengan munculnya pertumbuhan ekonomi yang cepat ini dinikmati oleh negara seperti Cina, India dan Indonesia sekarang.

Ada banyak faktor pendorong terjadinya hal ini, termasuk peningkatan perdagangan, tingginya tingkat investasi, urbanisasi yang cepat dan inovasi teknologi.

Dalam sejarahnya, perekonomian dunia telah dua kali menikmati super-cycle sebelumnya. Pertama, 1870-1913, mengalami pick-up signifikan pada pertumbuhan global. Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia setiap tahun sebesar 2,7%, satu persen lebih tinggi dari sebelumnya. Siklus itu dipimpin oleh munculnya Amerika Serikat, serta munculnya peningkatan perdagangan dan penggunaan teknologi yang lebih besar dari Revolusi Industri.

Super siklus kedua, dari 1945 hingga awal 1970-an, pertumbuhan rata-rata 5% dan ditandai oleh rekonstruksi pasca-Perang dan catch-up di sebagian besar dunia. Ini juga ditandai oleh munculnya kelas menengah yang besar di Barat dan negara-negara pengekspor di Asia, dipimpin oleh Jepang.

Sekarang, kita mungkin berada dalam super-cycle yang berbeda, namun dengan aspek-aspek serupa seperti dua super-cycle sebelumnya.

Bagi orang-orang di Asia dan di seluruh dunia, munc

Sumber : VIVANEWS.COM
IMF: Asia Pimpin Kekuatan Ekonomi Global
Senin, 12 Juli 2010 | 11:00 WIB

TEMPO Interaktif, Korea Selatan -Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss-Kahn mengatakan, Asia telah muncul sebagai kekuatan ekonomi global dalam menghadapi krisis finansial dunia.

“Saat bagi Asia sudah datang… tak satupun meragukan bahwa kelanjutan pertumbuhan kinerja ekonomi Asia adalah penting,” kata Strausss-Kahn dalam Konferensi 21-high level di Daejeon, Korea Selatan hari ini.

Menurutnya, reformasi di bidang makro ekonomi, finansial, dan korporasi di kawasan Asia yang telah berjalan seiring selama satu dekade terakhir telah memainkan peranan penting. Sehingga, meskipun sempat terhantam krisis, Asia mampu dengan cepat mengatasi krisis finansial global. “Pekan lalu IMF memproyeksikan Asia akan tumbuh di angka 7,75 persen pada 2010, sedangkan pertumbuhan global relatif di angka 4,5 persen,” ujarnya.

Dia juga menggarisbawahi bahwa peran Asia semakin penting dalam mengkoordinasi kebijakan ekonomi global, khususnya melalui G20, yang dipimpin Korea Selatan bersama enam negara Asia lainnya.

Berdasarkan analisa IMF baru-baru ini, kata Strauss-Kahn, koordinasi kebijakan global yang dilakukan telah membantu meningkatkan GDP Asia mencapai US$250 triliun dan menghasilkan sekitar 14 juta lapangan kerja selama lima tahun terakhir.

Menyikapi krisis finansial yang sedang dihadapi Eropa, Strauss-Kahn mengatakan, para pengambil kebijakan di Asia perlu untuk menyesuaikan kembali kemungkinan munculnya tekanan. Kebijakan penting yang menantang termasuk bagaimana cara terbaik untuk mengelola agar arus balik modal secara cepat kembali menguat, dan terkait dengan resiko yang memanas dan masalah pembengkakan kredit dan aset.

Menurutnya, isu kebijakan jangka panjang adalah bagaimana Asia dapat meningkatkan investasi domestik dan konsumsinya yang digambarkannya sebagai “Mesin Pertumbuhan Kedua Asia.”

Strauss-Kahn menyatakan, meningkatkan peran Asia dalam ekonomi global perlu direfleksikan sebagai menguatnya suara dan representasi Asia di lembaga keuangan internasional termasuk IMF.

Begitupun, ia menegaskan, IMF akan bekerja efektif untuk memperkuat dukungan bagi Asia ke depan. Dia menyebut dukungan itu meliputi tiga hal, yaitu meningkatkan analisa resiko ekonomi dan finansial, memfasilitasi kebijakan kolaborasi internasional, dan memperkuat jaring pengaman finansial global secara lebih cepat.

Menurutnya, dunia ingin memahami upaya Asia yang telah sukses mengelola pertumbuhan ekonominya dan globalisasi. “Mempelajari kesukseskan Asia adalah tujuan penting dari konferensi ini.”

MARIA
Pasar Properti Cina Diambang Bangkrut
Selasa, 06 Juli 2010 | 10:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pasar properti Cina sedang menuju kolaps. Kondisi ini bakal memukul sistem perbankan negara Tirai Bambu itu.

“Anda mulai melihat bahwa properti menuju kolaps dan akan memukul sistem perbankan,” kata Kenneth Rogoff, Profesor di Universitas Harvard dan mantan pimpinan ahli ekonomi untuk IMF kepada Bloomberg televisi di Hong Kong hari ini.

Pemulihan ekonomi global yang berjalan sangat lamban memberi sinyal bahaya akan kembali muncul resesi. Dan, Cina saat ini sebagai pemimpin dunia untuk pemulihan ekonomi global.

Menurut Rogoff, pejabat pemerintah Cina memang telah memiliki banyak cara dengan manajemen yang kompeten untuk mencegah runtuhnya pasar properti. Namun, Rogoff menilai hal itu tidak mudah untuk dilakukan.

Pejabat otoritas Cina tahun ini telah berusaha meredam pertumbuhan ekonominya di level 11.9 persen pada kuartal pertama tahun ini. Hal ini untuk mengurangi spekulasi di pasar properti.

Bank Sentral juga telah memberitahu para penjual properti untuk lebih meningkatkan cadangan keuangan mereka. Bank Sentra juga menargetkan pemotongan 22 persen pertumbuhan kredit bank tahun ini menjadi 7,5 triliun yuan atau setara US$ 1,1 triliun.

Usaha-usaha ini justru berkontribusi memerosotkan penjualan real estate pada saat harga-harga merangkak naik. Nilai penjualan properti pun jatuh 25 persen pada Mei lalu dibandingkan April.

Goldman Sachs pekan lalu telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini dari 11,4 persen menjadi 10,1 persen. Ini sebagai akibat dari langkah pengetatan moneter oleh Cina.

Namun langkah pengetatan moneter, menurut Rogoff, sebagai hal yang tidak realistik untuk mengharapkan agar Cina melanjutkan pertumbuhan ekspornya ke berbagai belahan dunia seperti yang terjadi saat ini. “Ini tidak mungkin. Mereka harus mempertajam kembali strateginya pada pertumbuhan ekonomi.”

MARIA

Emerging-market equity funds attracted more money last week, putting them on course for a record year, as Europe’s debt worries diverted cash away from developed-market funds, EPFR Global said.

Emerging-market equities got net inflows of $2.4 billion in the week to Nov. 24, out of a total of $4 billion for stock funds worldwide, Boston-based EPFR said in an e-mailed statement. Funds investing in emerging-market stocks have taken in $84.3 billion this year, more than 2009’s $83.3 billion, EPFR said. Bond managers posted net outflows of $735 million as U.S. funds recorded their first back-to-back week of redemptions since the fourth quarter of 2008.

“Money is going where the performance is,” Michael O’Rourke, New-York based chief market strategist for BTIG LLC, said today on a conference call with reporters. “It’s going where the growth is.”

The MSCI Emerging Markets Index has climbed 9.3 percent this year, more than the 2.9 percent advance by the MSCI World Index of 24 developed markets. Developing nations will grow 6.4 percent next year, compared with a projection of 4.2 percent for world economic growth, the International Monetary Fund said in a report last month.

MSCI’s emerging-market index fell for three consecutive weeks to Nov. 26, the longest losing streak since May, amid concerns over China’s attempts to curb inflation, rising tensions between North and South Korea and Europe’s debt crisis. The gauge rose 0.1 percent today as of 11:20 a.m. in Hong Kong.

Sumber : BLOOMBERG.COM

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: