Skip to content

ya sudah lah: indon menyalip … 021110

November 2, 2010

The Economist: RI Pesaing Baru Brasil & Rusia
Apa yang dilakukan pemerintah sekarang adalah lebih kepada melihat daya saing Indonesia.
Selasa, 2 November 2010, 13:17 WIB
Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews – Pemerintah Indonesia sepertinya tidak ingin terlalu kaku dalam menjalankan pemerintahan bidang ekonomi dengan sebutan atau gelar-gelar tertentu.

Alasan itu yang membuat pemerintah tidak terlalu memperjuangkan Indonesia agar masuk negara kelompok BRIC, yakni Brasil, Rusia, India, dan China.

Bahkan, majalah Inggris edisi terbaru, The Economist, kini menciptakan terminologi baru yang terdiri atas negara Colombia, Indonesia, Vietnam, Mesir, Turki, dan Afrika Selatan (CIVETS).

“Jadi bukan hanya BRIC, tapi kini ada CIVETS,” kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa 2 November 2010.

Dia menegaskan bahwa apa yang dilakukan pemerintah sekarang adalah lebih kepada melihat daya saing Indonesia terhadap dunia internasional.

“Karena kunci keberhasilan itu apakah berhadapan dengan produk China, atau dalam negeri sendiri guna menembus pasar internasional adalah daya saing,” kata Mahendra.

Menurut dia, kapan dan akankah Indonesia masuk kelompok BRIC, sehingga menjadi BRICI, pemerintah tidak peduli. “Itu kan hanya istilah yang dikemukakan oleh lembaga investasi. Itu hanya singkatan mereka yang digunakan untuk mencerminkan potensi return, jadi tidak terpaku pada istilah,” ujar Mahendra.

Saat ini, pemerintah berkeyakinan bahwa posisi Indonesia sudah cukup baik. Dalam hal daya saing di kawasan, hanya China yang terdepan. “Indonesia setara lah dengan China,” tuturnya. Yang dimaksud setara itu adalah dalam hal pasar, potensi, dan juga kemampuan sumber daya.

Dengan istilah BRIC, apa yang dipandang pemerintah adalah bagaimana bisa belajar dari kawasan yang memang dianggap negara sukses dalam hal lokasi investasi. “Itu saja yang dilihat. Jadi tidak hanya terbentur jadi BRICI,” kata dia. Karena menurut Mahendra, persaingan yang adil di dunia internasional itu perlu diciptakan dan ditingkatkan.

Mahendra tidak terlalu setuju Indonesia disebut tertinggal dibanding BRIC atau istilah apa pun. Sebab, kalau hanya terbentur BRIC atau terpaku pada istilah itu, maka dianggap tidak tepat lagi. (hs)
• VIVAnews
Indonesia tidak hanya berpeluang masuk sebagai anggota kelompok Brasil, Rusia, India, dan China (BRIC) tapi sangat mungkin menggeser posisi Rusia sebagai kekuatan ekonomi baru.

“Jadi, pemikirannya bukan hanya menambahkan Indonesia dalam BRIC, kita punya potensi menggantikan Rusia,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan dalam Mandiri Economic Forum ‘Indonesia The Next I in BRICI?’ di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Selasa, 2 November 2010.

Gita menuturkan, selama ini pertumbuhan ekonomi Rusia hanya bergantung pada satu sampai dua sektor saja. Selain itu, negara bekas Uni Soviet ini juga memiliki kondisi politik yang tidak selalu stabil.

Hal tersebut berbeda dengan Indonesia yang memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang terdiversifikasi cukup banyak. Selain itu, Indonesia juga memiliki ekstrapolasi ekonomi yang sangat baik, ditambah stabilitas ekonomi makro dan politik yang tetap terjaga.

Namun Gita mengingatkan, untuk bisa menggeser posisi Rusia, Indonesia harus bisa membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur di Tanah Air bisa segera diselesaikan. “Itu saja (syaratnya), yang (sektor) lain sih ikut-ikut saja,” katanya.

Sumber : VIVANEWS.COM

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: