Skip to content

geregetan: pulih itu MAHAL … 300810

August 30, 2010

loading
Pemulihan global melambat
OLEH DEWI ASTUTI & AGUST SUPRIADI Bisnis Indonesia

Ekspor dan investasi RI diperkuat hadapi imbas ekonomi dunia JAKARTA: Sejumlah bank sentral negara maju mulai memberi sinyal akan meluncurkan tambahan stimulus se iring dengan perlambatan pemulihan ekono mi, sementara pemerintah diminta mengantisipasi imbas ekonomi global itu.

Chairperson Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) Ben S. Bernanke memaparkan Federal Reserve memiliki alat kebijakan untuk mencegah agar ekonomi AS tidak kembali terjun ke jurang resesi (double-dip).
“Kami siap memberikan tambahan stimulus moneter melalui kebijakan nonkonvensional jika memang diperlukan, terutama jika outlook ekonomi makin memburuk,“ tegasnya dalam pidatonya di hadapan para pejabat bank sentral dan kalangan ekonom dari 40 negara di acara simposium tahunan Federal Reserve di Jackson Hole, Kansas City, Wyoming, AS, seperti dikutip Bloomberg, akhir pekan lalu.

Pidato Bernanke hanya berselang beberapa jam seusai pengumuman kinerja pertumbuhan ekonomi AS kuartal II yang menunjukkan perlambatan. Departemen Perdagangan AS mencatat ekonomi Negeri Paman Sam tumbuh 1,6% (year-onyear), lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 2,4%.

Dari Inggris, Deputi Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England) Charles Bean menegaskan tambahan stimulus moneter diperlukan untuk menjaga pemulihan ekonomi karena kondisi usai resesi 2008 masih mengganggu pemulihan ekonomi.

“Proses deleveraging belum selesai. Pemulihan masih rentan.
Kebijakan lebih jauh diperlukan untuk menjaga keberhasilan pemulihan. Tapi, periode normal pasti akan tiba pada waktunya.“

Dari Tokyo, sumber surat kabar Nikkei mengungkapkan bank sentral Jepang, Bank of Japan akan melakukan pertemuan darurat pada pekan ini untuk mempertimbangkan tambahan pelonggaran kebijakan moneter.

Dalam proposal paket stimulus yang dikirim partai penguasa pemerintah Partai Demokrat Jepang kepada Perdana Menteri Naoto Kan akhir pekan lalu, bank sentral diminta segera bertindak lebih jauh karena ekonomi tengah berada dalam ancaman penguatan yen dan deflasi.

Direktur Eksekutif Morgan Stanley Arnaund Mares menuturkan pemerintah di dunia dihadapkan pada kesulitan meningkatkan penerimaan pajak. Potensi resesi bisa makin mengganggu kemampuan pemerintah untuk memungut pajak. Akibatnya, pemerintah dapat terjerumus ke zona negatif dan meningkatkan risiko di mana pemilik surat utang menderita kerugian yang lebih besar. Apalagi, pemerintah juga dibebani fenomena penuaan populasi.

Ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz pun menyatakan ekonomi Eropa tengah berada dalam risiko untuk kembali ke jurang resesi seiring dengan kebijakan pemerintah memangkas belanja untuk mengurangi defisit anggaran.

Menurut Mission Chief IMF untuk Indonesia Thomas R. Rumbaugh, efek yang patut diperhatikan dari tambahan stimulus moneter di negara maju, khususnya AS, adalah outlook aliran modal ke Tanah Air.

Berlanjutnya stimulus moneter akan membuat suku bunga negara maju terus berada di level rendah dan bahkan dapat lebih rendah. Akibatnya, RI akan terus menjadi destinasi yang menarik bagi arus modal karena suku bunga yang lebih tinggi pada surat utang negara (SUN) dan sertifikat Bank Indonesia (SBI).

“Dalam jangka pendek, capital inflows ke Indonesia akan kian meningkat. Ini akan menjadi tantangan bagi Bank Indonesia. Mereka harus mengelola dampak likuiditas terhadap pasar domestik agar lonjakan inflasi bisa dicegah,“ tegasnya kepada Bisnis.

Drajad Hari Wibowo, Ekonom Sustainabilitas Development Indonesia, mengatakan dampak utama dari perlambatan pemu lihan ekonomi tersebut adalah perdagangan global yang semakin rentan. Di sisi lain terdapat peningkatan kecenderungan proteksionisme di Eropa dan pada titik tertentu di AS.

Menurut dia, ada beberapa langkah antisipatif yang penting dilakukan pemerintah, di antaranya menjaga surplus neraca pembayaran Indonesia, terutama neraca perdagangan, dan menerapkan kebijakan industri dan perdagangan yang terpadu dengan tujuan menaikkan daya saing.

Direktur Islamic Research & Training Institute Islamic Development Bank Bambang P. S.
Brodjonegoro mengatakan Indonesia bisa memanfaatkan pemulihan yang cepat di Asia Timur dan negara berkembang lainnya, di samping ekonomi domestik sendiri.

“Pemerintah tetap perlu stimulus fiskal untuk menggerakkan pertumbuhan dan diversifikasi komoditas dan tujuan ekspor plus perbaiki iklim investasi.“

Arah belum jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Ekonom Danareksa Research Institute, menilai secara keseluruhan kondisi ekonomi AS, Eropa, dan Jepang masih belum jelas arah ekonominya dalam jangka pendek. Demikian pula pengaruhnya ke perekonomian Indonesia, masih samar karena pembalikan arus modal belum terjadi.

“Kalau jangka pendek Anda akan melihat gambar yang mem bingungkan, tapi kalau jangka panjang saya yakin ini [ekonomi global] masih ekspansi terus karena saya lihat leading economy yang naik terus. Jadi saya melihat uncertainty global masih tinggi, tapi arahnya di mata saya jelas membaik,“ paparnya di kantor Kemenko Perekonomian, pekan lalu.

Ketidakpastian tersebut, tambah Purbaya, yang membuat pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang moderat pada tahun depan, yakni 6,3%. “Kurang bijak kalau kita taruh [target pertumbuhan] ekonomi di kisaran 6,5%-7% ya.
Jadi kita harus jaga-jaga juga.“

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan dengan kondisi ekonomi global yang kurang baik saat ini, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh tinggi sesuai dengan harapan. Pasalnya, seluruh kebijakan yang diambil, termasuk antisipasi dampak krisis global, sudah sejalan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan.

“Apa yang kita lakukan sudah on the track.“ katanya.

Menurut dia, untuk lebih memperkuat fundamental perekonomian Indonesia dari imbas ekonomi global, ekspor dan investasi akan didorong sebagai motor utama. Artinya, pertumbuhan ekonomi ke depannya tidak akan lagi disokong dominan oleh konsumsi masyarakat. (M.
ROCHMAD PURBOYO (dewi.astuti@bisnis.co.id/agust.supriadi@bisnis.co.id)

CATATAN AWAL PEKAN Risiko ekonomi global dan upaya mitigasi
OLEH ANGGITO ABIMANYU Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Bisnis UGM, Yogyakarta

Article Rank

Data perkembangan ekonomi dunia akhir akhir ini menunjukkan resesi global sejak 2008 belum seluruhnya pulih. Ada indikasi awal krisis utang di Eropa mulai memberikan sentimen di sektor riil. Terlihat dari indeks produksi manufaktur global di AS dan China menurun sejak April 2010.
Aktivitas perdagangan dunia juga cenderung melambat akhirakhir ini. Aktivitas perdagangan luar negeri yang tecermin dari Baltic Dry Index menurun cukup tajam dalam 2 bulan terakhir. Di samping itu tentu yang sudah diperkirakan sebelumnya pemberian stimulus fiskal membuat defisit anggaran di hampir semua negara di dunia mengakibatkan utang naik secara signifikan.

Keadaan ini memicu krisis ke percayaan terhadap keadaan fiskal negara-negara Eropa dan mengganggu proses pemulihan ekonomi global. G-20 masih melakukan perhitungan mengenai perlu tidaknya exit strategy saat ini. Yang jelas, upaya pencegahan krisis keuangan global financial safety nets menjadi prioritas bersama apabila tidak mau mengulangi kejadian krisis 2008.

Apa implikasinya bagi Indonesia? Meskipun terdapat risiko perlambatan pertumbuhan eko nomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mengalami pertumbuhan sesuai dengan rencana, bahkan lebih tinggi.

Tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 6% di atas sasaran awal 5,8%. Tahun 2011 diperkirakan mencapai 6,3%. Prospek ekonomi yang cerah direspons positif oleh investor termasuk investor asing. Rupiah menguat di kisaran 9000 rupiah per dolar AS dan IHSG menguat di atas level 3000.

Minat investor terhadap surat utang negara meningkat. Akibatnya nilai transaksi SUN meningkat signifikan dan yield SUN 5 tahun turun di bawah 8%. Beban bunga utang baru menjadi lebih rendah. Cadangan devisa diperkirakan mencapai Rp80 miliar tahun ini didukung oleh masuknya modal portofolio yang deras.
Risiko pembalikan Di balik semua perbaikan fondasi perekonomian Indonesia, risiko terjadi pembalikan tetap ada, bahkan meningkat. Fenomena akhir ini seperti meningkatnya arus modal jangka pendek, kepemilikan surat utang dan saham oleh asing, jumlah utang jangka pendek khususnya swasta memberikan indikasi bahwa perekonomian Indonesia memiliki risiko shock external yang meningkat.

Apalagi kebutuhan pembiayaan APBN 2010 adan 2011 meningkat dan kenaikan inflasi akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sangat serius.

RAPBN 2011 juga tidak memberikan suatu “bantalan“ yang mencukupi apabila terjadi shock external yang tiba-tiba dan dapat mengganggu kelangsungan APBN kita. Apabila DPR menolak kenaikan tarif listrik dan harga eceran pupuk akan menambah risiko pembiayaan APBN 2011.

Apa yang harus dilakukan?
Gejala perlambatan global yang diperlukan memerlukan upaya nasional, regional, dan global. Di sisi kebijakan nasional; Pertama, stabilitas makro, khususnya Inflasi harus dijaga. Pasokan beras harus ditambah dan Impor beras jika terpaksa, harus dilakukan untuk mengurangi spekulasi harga beras di pasar.

Penguatan rupiah harus dilihat sebagai fenomena regional jangan ada upaya dari otoritas (BI) untuk melakukan intervensi (pelemahan) terhadap nilai rupiah yang tidak perlu. Kedua, pelaksanaan APBN-P 2010 sesuai dengan sasaran dan penyelesaian pembahasan RAPBN 2011 harus diupayakan benar-benar dengan mengingat risiko ekonomi global tersebut.

Pembatalan penaikan TDL dan HET akan berisiko pada krisis fiskal.

Perpanjangan dana pinjaman siaga hingga 2011 perlu dilakukan untuk berjaga-jaga dan menjadi sumber kepercayaan investor.

Penerbitan SUN secara reguler tetap harus dilakukan untuk

menjaga risiko pembalikan. Apabila terjadi kelebihan pembiayaan dari SUN, maka dapat menjadi sumber pre-financing 2011.
Eksekusi belanja APBN dan infrastruktur terus dipacu jika tidak menghendaki adanya ekonomi overheating.

Ketiga, BI harus melakukan sesuatu (lagi) dengan masalah masuknya dana portofolio jangka pendek agar dapat berinvestasi lebih panjang. Meskipun ada ancaman inflasi, sebaiknya BI tidak menaikkan suku bunga BI Rate karena bisa menunrun

kan momentum pertumbuhan sektor riil. Keempat, selesaikan RUU Jaring Pengaman Sektor Keuangan segera. RUU JPSK lebih penting daripada RUU Otoritas Jasa Keuangan.
OJK yang terpisah dan independen dari BI sudah final dan diperlukan, sehingga Kemenkeu dan BI harus sepakat terhadap hal tersebut dan tidak menghabiskan waktu untuk perbedaan pendapat yang tidak perlu.

Dalam forum regional dan global, maka upaya aktivasi berbagai inisiatif pencegahan krisis

seperti Chiang May Initiative dan Fiscal Safety dalam kerangka G-20 adalah prioritas tinggi bagi partisipasi Indonesia.
Kerja sama global diperlukan karena potensi krisis sudah berskala global dan datangnya tidak bisa diperkirakan serta punya daya tular (contangion) yang sangat cepat.

Pada akhirnya, harus disadari bahwa dalam situasi perekonomian global yang volatile dan labil sekarang dan kedepan, tidak bisa tidak selain kita mempersiapkan sedini

mungkin.
Pemantauan dini, early warning system (EWS) perekonomian, stress-test pada perbankan harus setiap saat tersedia dan manajemen protokol risiko krisis disiapkan. Instrumen, regulasi dan teknologi sangat memungkinkan dilakukannya pada saat ini untuk dibangun dan dipersiapkan.

Akhirnya bergantung pada kemauan politik dari DPR dan pemerintah untuk menjalankannya bersama-sama. Tidak ada yang tidak mungkin.

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: