Skip to content

geregetan: ASIA the NAME … 050810

August 5, 2010

loading
Asia tujuan ekspansi bisnis utama
OLEH ERNA S. U. GIRSANG Bisnis Indonesia

Article Rank

: Asia menjadi tujuan per luasan bisnis utama pada tahun ini dan bebera pa tahun mendatang. (
Perusahaan mulai cetak keuntungan dari pemulihan ekonomi kawasan

JAKARTA: Asia men jadi tujuan perluasan bisnis utama pada tahun ini dan beberapa tahun mendatang, menyusul penguatan pertumbuhan kawasan dibandingkan dengan benua lain. Kondisi ini menyebabkan arus modal ke Asia diperkirakan meningkat baik dari pasar modal maupun dalam bentuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), sehingga penguatan ekonomi kawasan akan berlanjut.
“Saat ini, investasi global langsung dialokasikan ke Asia, kami juga melakukan perluasan usaha, untuk sekuritas, perluasan paling baru adalah peluncuran sekuritas di Indonesia, dan kami menunggu izin yang sama di Malaysia,“ ujar Rodrigo Zorrila, Head of Markets Asia Pacific Citigroup, kepada Bisnis, kemarin.

Dia mengatakan dari total ne gara di Asia, anggota Asean merupakan tujuan investasi yang sangat diminati perusahaan global. Ekspansi usaha di Asia juga terkait dengan peningkatan keuntungan yang diraih sejumlah perusahaan di kawasan ini selama proses pemulihan ekonomi global.

Secara terpisah dilaporkan, pada Mei, Standard Chartered menambah dana US$540 juta dari penjualan saham sendiri di India dan mening katkan investasi sebesar US$500 juta melalui pena waran saham perdana di Agricul tural Bank of China Ltd untuk me lakukan ekspansi di Asia.

Pernyataan resmi Standard Chartered Plc yang dirilis kema rin menyebutkan bank Inggris itu meraih lebih dari sepertiga keuntungan dari Asia. Selama paruh pertama tahun ini keuntungan naik 11% setelah biaya mengatasi pinjaman bermasalah turun.

Laba bersih naik menjadi US$2,15 miliar selama 6 bulan sampai Juni dari US$1,93 miliar selama periode yang sama pada tahun lalu. Nilai tengah proyeksi analis menyebutkan laba bersih perusahaan itu akan mencapai US$2,08 miliar.

“Penurunan hambatan kredit yang terlihat sejak awal 2009 berlanjut,“ jelas Chief Executive Officer Peter Sands dalam pernya taannya seperti dikutip Bloomberg, kemarin. Secara terpisah dilaporkan, HSBC Holdings Plc, bank terbesar di Eropa, pekan lalu mengatakan pendapatan bersih naik dua kali lipat menjadi US$6,76 miliar akibat penurunan jumlah pinjaman bermasalah dan peningkatan keuntungan di Hong Kong dan Asia Pasifik Nomura Holdings Inc juga melaporkan peningkatan perdagangan komoditas di Asia, dan memperkirakan China akan memimpin pemuli memimpin pemuli han ekonomi global dari per mintaan bijih besi, batu bara, dan logam.

“Kami akan melakukan per luasan usaha dengan jumlah sig nifikan di perdagangan komodi tas pada 12 sampai 18 bulan mendatang,“ ujar Sean Brecker, Head of Commodities Trading No mura Asia di luar Jepang di Si ngapura.

Masih dari Jakarta, Adrian H.

Faure, Managing Director Head of Equities Asia Pacific Markets, mengemukakan sejumlah negara di Asean sedang berupaya meningkatkan daya saing masing-masing untuk menarik dana dari pasar modal.

Namun, jelasnya, meskipun sama-sama negara berkembang, negara di Asia memiliki keunggulan yang berbeda, sehingga peluang untuk menarik dana masih sangat besar. Apalagi, setelah China berupaya menghindari penggelembungan nilai aset dengan membatasi kredit properti.

Di tempat yang sama, Tigor M.
Siahaan, Managing Director and Country Business Manager Citi Indonesia, mengatakan selain momentum penguatan perekonomian, perluasan usaha ke Asia adalah strategi jangka panjang.

Dia mengatakan meskipun terjadi krisis keuangan yang disusul dengan resesi global, sejumlah perusahaan kembali menjalankan strategi bisnis yang telah direncanakan sejak beberapa tahun sebelum krisis.

Lebih jauh, Rodrigo mengatakan melihat kondisi itu, pihaknya menilai kecil sekali kemungkinan terjadinya resesi yang lebih parah. (erna.girsang@bisnis.co.id)
Ekonomi AS mulai melambat
OLEH DEWI ASTUTI & ERNA S.U. GIRSANG Bisnis Indonesia

Article Rank

JAKARTA: Laju ekonomi Amerika Serikat mulai melambat, menyusul pelemahan belanja dan pendapatan konsumen serta penjualan rumah selama Juni di tengah stagnasi penyerapan lapangan kerja.
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS mengungkapkan belanja konsumen, mencakup 70% perekonomian, tumbuh 0,1% pada Juni atau tidak berbeda dari bulan sebelumnya.

Selama kuartal II, belanja konsumen meningkat 1,6%. Kondisi ini mempertegas bahwa pemulih an ekonomi AS kehilangan momentum menuju semester II/ 2010. Peningkatan pendapatan konsumen selama Juni juga tidak berubah dari kondisi Mei, yaitu sebesar 0,2%.

“Penyerapan lapangan kerja di sektor swasta melaju secara moderat dan dari sinilah penduduk AS bisa meningkatkan pendapatan,“ jelas Rebecca Blank, Wakil Mendag Bidang Ekonomi, di website Departemen Perdagangan AS yang dikutip Bisnis, kemarin.

Bursa saham juga anjlok. Indeks Standard and Poor’s 500 turun 0,5% ke level 1.120,46 pada penutupan transaksi pukul 16.00 sore waktu setempat di bursa New York dengan penurunan saham Procter & Gamble sebesar 3,4%.

Dolar AS melemah dan surat utang pemerintah semakin bertambah sehingga mendorong penurunan imbal hasil surat utang bertenor 10 tahun menjadi 2,91% dari posisi kemarin 2,96%.

“Konsumen mengurangi belanja. Pasar tenaga kerja yang lemah kemungkinan masih berlangsung hingga 2013,“ ujar Guy LeBas, ahli strategi utama fixed income Janney Montgomery Scott LLC di Philadelphia, kemarin, seperti dikutip Bloomberg.

Nilai tengah estimasi 76 ekonom yang disurvei Bloomberg memproyeksikan kenaikan belanja konsumen 0,1% pada Juni.
Stangnasi pertumbuhan penda patan konsumen selama Juni yang sama dengan Mei, yaitu sebesar 0,2%, merupakan pertama sejak September 2009.
Kepastian ekonomi AS Dalam kunjungannya ke Kantor Bisnis, kemarin, Duta Besar Inggris Untuk Indonesia Martin Hatfull mengatakan perekonomian dunia tidak dapat mengabaikan kesehatan ekonomi AS karena negara itu sangat memengaruhi ekonomi global.

“Saya kira dunia sangat ingin agar ekonomi AS sehat, karena akan memengaruhi perekonomian kami, termasuk ekonomi kawasan lain, sehingga perlu koordinasi antar negara dalam mene rapkan kebijakan ekonomi, salah satu cara efektif adalah melalui forum G-20,“ ujarnya.

Dia mengatakan saat ini Inggris masih memprioritaskan kebijakan ekonomi untuk mengatasi dampak resesi global dengan melakukan pemangkasan defisit anggaran yang sangat dramatis sampai 2015 dengan mengurangi belanja publik.

Kebijakan yang sama, menurutnya, juga dilakukan sejumlah negara, termasuk beberapa negara Eropa lain, karena beban utang pemerintah melonjak setelah penanganan krisis keuangan global ataupun beban utang yang telah menumpuk dari tahun-tahun sebelumnya.

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: