Skip to content

geregetan: mental bankir, mental juara, mantul naek dulu dah…

May 21, 2010

21/05/2010 – 05:55
Terpilihnya Agus Martowardojo
Mental Bankir, Problem Menkeu Baru
Ahmad Munjin

Agus Martowardojo
(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang baru saja dilantik bisa mengalami masalah terkait latar belakang mentalnya sebagai bankir. Padahal, dia diharapkan mampu membangkitkan makro ekonomi dan sektor riil.

Ahmad Erani Yustika, ekonom Universitas Brawijaya menilai mental seorang bankir seperti Agus Martowardojo akan menjadi masalah ketika menjabat menteri keuangan. Menurutnya, tidak mudah mengubah cara pandang bankir menjadi cara pandang otoritas fiskal. Sebab, keduanya memiliki logika yang berbeda.

Seorang bankir, lanjut Erani, berorientasi memastikan agar kredit yang diberikan aman dan menciptakan laba perusahaan semakin lama semakin bagus. “Sedangkan di lingkungan fiskal, justru dalam banyak hal memiliki logika yang berbeda dari seorang bankir,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (20/5).

Otoritas fiskal menurut Erani berpikir bagaimana mengerek perekonomian tumbuh lebih cepat, tanpa melupakan aspek kehati-hatian. Selain itu, orientasi menteri keuangan juga bukan soal profit seperti bank Mandiri. “Artinya, kebijakan fiskal harus bisa menyantuni seluruh kelompok masyarakat,” imbuhnya.

Karena itu, Erani menekankan, aspek-aspek mengenai makro ekonomi menjadi lebih penting dibandingkan penguasaan mikro ekonomi semata. “Di perbankan, Agus Martowardojo tidak peduli sektor apa yang harus disantuni. Yang terpenting sektor tersebut dinilai mampu mengembalikan kreditnya,” ucapnya.

Sedangkan di fiskal, yang justru harus disantuni adalah sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran. Meskipun secara ekonomi tidak menguntungkan jika dibandingkan dengan sektor non-tradable, tapi risiko itu harus diambil kalau memang prioritas pembangunan adalah mengurangi pengangguran.

Menyusun kebijakan fiskal, lanjutnya, tidak semata-mata menggunakan cara pandang profit tapi didasarkan pada ekonomi riil di lapangan. Karena itu, insentif fiskal harus diarahkan pada kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak masyarakat. “Selama ini, insentif hanya diarahkan untuk memberikan karpet merah bagi pelaku ekonomi asing,” tandasnya.

Itulah yang menjadi pekerjaan rumah Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan yang baru. Logika itu yang harus dibalik. Menurut Erani, insentif fiskal harus diarahkan pada sektor pertanian dan industri padat karya. “Sebab, itulah yang mengatasi pengangguran,” paparnya.

Selain itu, pelaku ekonomi domestik harus diprioritaskan. Jangan seperti sekarang, di mana 80% pelaku ekonomi adalah Penanam Modal Asing (PMA). “Ini tidak menunjukkan adanya keberpihakan sektor fiskal pada kepentingan ekonomi domestik,” ulasnya.

Di atas semua itu, Erani ragu apakah Agus Martowardojo mampu mentransformasikan dirinya dari seorang bankir menjadi menkeu. Tapi, ia berharap, dengan semangat juara Agus Martowardojo di sektor perbankan, dapat dilakukan juga di Kementerian Keuangan.

Menurutnya, mental juara bisa memicu Agus menguasai medan secepatnya dan menjadi pembelajar yang cepat. Hal-hal semacam itu, menurutnya yang secara intuisi harus dimiliki oleh menteri keuangan termasuk Agus Martowardojo. “Itulah harapan yang bisa saya ungkapkan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Iman Sugema, direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE), IPB menilai tidak mempermasalahkan latar belakang Agus Martowardojo sebagai seorang bankir. Dia juga mengaku tidak tahu kemampuan Agus dalam menyesuaikan diri sebagai penjaga gawang otoritas fiskal.

Seberapa cepat penyesuaian Agus di Kementerian Keuagan sangat tergantung pada seberapa cepat daya belajarnya. “Saya tidak bisa menguji daya belajar Agus, karena tidak kenal dia,” timpalnya. Karena itu, Iman tidak bisa menilai terlalu jauh sosok Agus Martowardojo.

Memang, menurutnya, menjadi Direktur Utama Bank Mandiri dan Menteri Keuangan merupakan dua hal yang berbeda. Karena itu, Agus membutuhkan proses belajar. “Hanya saja, akan secepat apa proses belajarnya saya tidak tahu,” tukasnya. [mdr]

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: