Skip to content

geregetan: krisis euro diobatpu$inkin, ga mempan seh … 190510

May 19, 2010

19/05/2010 – 05:58
Bailout Hanya Obat Pusing Sementara
Eropa Butuh 10 Tahun untuk Pulih
Ahmad Munjin

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Beberapa negara Uni Eropa, diramalkan butuh 10 tahun untuk pulih akibat parahnya kondisi defisit fiskal. Sebab, mereka harus membalikkan defisit fiskal menjadi surplus.

Ramalan itu datang dari M Doddy Arifianto, ekonom senior Bank Mandiri. Menurutnya, untuk stabilisasi, Uni Eropa harus memutar dari defisit fiskal menjadi surplus. Doddy mencontohkan Yunani yang harus memutar defisit fiskal dari minus 13,6% menjadi surplus 3%. Artinya, harus terjadi 15% kenaikan anggaran.

Karena itu, lanjutnya, harus ada triliunan dolar AS untuk memangkas belanja di Uni Eropa terutama yang masuk GIPSI (Greek, Italia, Portugal, Spanyol, dan Irlandia).

Padahal, Eropa merupakan negara-negara maju yang taraf kehidupannya sudah jauh di atas Indonesia. “Misalnya, Eropa mengenal sekolah tinggi gratis,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (18/5).

Untuk mencapai itu, selama 10 tahun Uni Eropa baru akan mencapai rasio utang normal terhadap GDP (Gross Domestic Product) di kisaran 50%. Tapi, Doddy tidak bisa membayangkan apakah orang Eropa bisa melakukan hal itu selama 10 tahun. “Sebab, subsidi akan banyak yang dipangkas, gaji dipangkas, dan pajak dinaikkan,” timpalnya.

Semula orang Eropa hidup mewah, lalu dipangkas akan menimbulkan resistansi politik yang luar biasa. Inilah yang ingin dilihat pasar saat ini. Sebab, bantuan senilai 750 miliar euro atau US$1 triliun bagi GIPSI hanya semacam obat pusing sementara.

Angka itu, digunakan untuk pembayaran utang yang jatuh tempo di 2010-2012. Sedangkan utang Yunani yang jatuh tempo di rentang waktu yang sama senilai US$80 miliar. Defisit Yunani pun terus membengkak menjadi 13,6% dari 12,7%.

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), pada 2010 rasio utang terhadap PDB Yunani sebesar 124,9%, Italia 120,1%, Portugal 84,6%, Irlandia 82,9%, dan Spanyol 66,3%.

Karena itu, yang dibutuhkan GIPSI jauh lebih besar dari US$1 triliun untuk membalik defisit itu. Tapi, menurutnya, stabilisasi bisa dicapai di bawah 10 tahun jika pertumbuhan ekonomi Eropa bisa dipacu di atas 1% menjadi 3-4%. “Saat ini rata-rata PDB Eropa masih 0-1%,” ucapnya.

Lebih jauh, Doddy mengatakan, jika terjadi skenario terburuk di mana GIPSI terjadi default (gagal bayar), akan terjadi shock. Indonesia pun akan terkena imbasnya. Namun, untuk Indonesia, gejolak itu hanya akan terjadi sesaat. “Sebab, fundamental ekonomi sangat baik dan sejauh ini stabilitas politik terjaga,” imbuhnya.

Dia memperkirakan, jika Eropa benar-benar default rupiah akan tertekan akibat besarnya capital outflow. Mata uang RI ini berpeluang melemah kembali ke atas 10.000 per dolar AS. “Tapi, keadaan ini hanya sementara,” tandasnya.

Menurutnya, shock pasar biasanya hanya terjadi 3 bulan. Pada mulanya memang investor lari ke safe haven currency seperti dolar AS dan yen Jepang yang bunganya rendah 0,25% dan 0,1%, tapi dinilai pasar aman. “Tapi, mereka tidak akan bertahan lama di safe haven. Sebab, uang itu sebenarnya hanya ditaruh di bawah bantal. Tidak menguntungkan,” tukasnya.

Pada akhirnya, mereka akan realistis dan berinvestasi kembali di Indonesia. Bahkan bisa jadi, karena Eropa dan AS krisis, investor justru berburu aset-aset Indonesia. Tapi, secara historis, pada saat krisis investor tidak mau berbuat apa-apa (wait and see). “Mereka lebih konservatif termasuk di pasar Indonesia,” urainya.

Di sisi lain, Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, mata uang RI ini tidak bisa lepas dari pengaruh negatif pelemahan euro terhadap dolar AS yang memicu kekhawatiran berlebihan di pasar. “Pasar khawatir, krisis Eropa akan menjalar ke AS dan Asia,” ucapnya.

Pelaku pasar pun saat ini beralih ke aset-aset safe haven seperti dolar AS, US Treasury dan emas. “Sebab, dengan pelemahan euro, mata uang Eropa itu tidak bisa diandalkan lagi sebagai safe haven currency,” ungkapnya.

Sementara itu, dari sisi outlook makro perekonomian Indonesia belum ada yang berubah sehingga berpengaruh netral di pasar. “Hingga saat ini, fundamental ekonomi Indonesia masih positif,” paparnya. [mdr]

Advertisements

From → GREAT depression

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: