Skip to content

geregetan: science based economy : 260410

April 26, 2010

CATATAN AWAL PEKAN
Kesempatan tak berkunjung dua kali

Opportunity does not knock twice (kesempatan tak berkunjung dua kali). Saya teringat ungkapan itu ketika bertemu dengan kawan lama, ekonom senior Prof Anne Booth dari University of London di acara Sadli Lecture beberapa pekan lalu.
Anne pernah menulis sebuah buku tua yang menarik: Indonesian Economic Development in the 19th and 20th Centuries: A History of Missed Opportunities. Saya kira Anne benar, sejarah kita adalah kronologi tentang kesempatan yang hilang.

Pagi itu, di acara Sadli Lecture, kebetulan saya harus membahas sebuah risalah yang ditulis oleh Prof Wing Thye Woo dan Chang Hong. Wing adalah seorang ekonom yang banyak melakukan studi perbandingan di banyak negara, terutama China. Bersama Jeffrey Sachs dan Stephen Parker, ia menulis buku yang penting tentang perekonomian negara-negara yang mengalami transisi.

Pagi itu Wing membandingkan kinerja ekonomi Indonesia sejak kemerdekaan dengan beberapa negara lain. Kesimpulannya: Indonesia mengesankan dalam pertumbuhan, tapi tak mengagumkan dalam pembangunan-terutama dalam 10 tahun terakhir.

Ia kemudian menunjukkan apa perbedaan kita dengan China dan beberapa negara Asia Timur lainnya dalam pembangunan ekonominya. Kesimpulan Wing: ke depan Indonesia harus memberikan penekanan kepada science based economy.

Tentu kita bisa berargumentasi Indonesia tak bisa dibandingkan dengan China, karena sistem politik yang berbeda sejak 1998. Dan itu ada benarnya: Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang melakukan reformasi politik dan ekonomi secara radikal dalam waktu bersamaan di tengah krisis.

Indonesia berubah dari sistem otoriter kepada demokrasi, dari sentralistis ke desentralisasi dalam satu malam. Sesuatu yang mungkin hanya bisa diperbandingkan dengan negara seperti Filipina.

Dan dibandingkan dengan Filipina, kinerja ekonomi Indonesia lebih baik. Memang kita harus mengakui bahwa dalam 10 tahun terakhir ada perbaikan di dalam pembangunan institusi. Membangun Indonesia dari sebuah negara yang centang perenang setelah reformasi politik, bukan kerja mudah.

Kita pun teringat bagaimana harapan tak bisa digantungkan melihat nasib Indonesia yang kacau balau pada 1998. Toh dalam 10 tahun, ekonomi mulai bertumbuh 6%, inflasi terkendali, nilai tukar menguat dan upaya pembangunan institusi, termasuk pemilu langsung bisa terjadi.

Namun, kita tak bisa berlindung di balik itu. Apa yang disampaikan Wing dengan risalahnya mengharuskan kita bertanya: mengapa China yang memulai reformasinya baru pada akhir 1970-an, berhasil tumbuh dengan begitu mengesankan, dan sekarang menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia? Sedangkan kita yang memulai pembangunan ekonomi jauh lebih awal dibandingkan dengan China masih jauh tertinggal.

Wing menunjukkan betapa rasio high and medium tech export terhadap total ekspor di Indonesia relatif amat rendah dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, China dan Meksiko. Kita hanya lebih baik dibandingkan dengan Nigeria.

Gambaran akan menjadi semakin buruk lagi, bila kita membandingkan indikator kapasitas penelitian dan inovasi (research and innovation capacity). Pertumbuhan ekspor Asia Timur yang mengesankan sebenarnya adalah kronologi tentang science led growth atau kontribusi pengetahun dalam mendorong pertumbuhan.

Semua negara Asia Timur yang berkembang pesat memiliki porsi science yang relatif besar dalam produk ekspornya. Kita memang pernah mencoba melakukan lompatan katak – toh tak berhasil. Karena yang kita lakukan: masuk kepada high technology dengan mencoba membuat pesawat.

Mungkin yang kita butuhkan adalah iptek di dalam pertanian misalnya varietas baru (termasuk agro biotechnology), pendekatan baru dalam pengelolaan air dan lingkungan, serta mekanisasi, perbaikan dalam bibit unggul untuk produk peternakan, infrastruktur yang mendukung pertanian dsb. Juga tentunya, perbaikan di dalam desain untuk produk manufaktur, branding dan original equipment manufacturing.

Saya kira Wing benar, terutama jika kita melihat didalam perspektif lebih panjang. Satu perubahan penting di dalam perekonomian dunia pada masa depan adalah perubahan struktur demografi. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa dan juga di kawasan Asia termasuk Jepang, Singapura dan China akan memiliki persoalan penduduk lanjut usia atau aging.

Data menunjukkan bahwa persentase penduduk usia 65 tahun ke atas pada 2025 akan semakin meningkat di Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, dan juga Thailand. Apa implikasi dari meningkatnya penduduk lanjut usia ini?

Pertama, produktivitas di negara-negara tersebut akan menurun akibat menurunnya penduduk usia produktif. Penurunan penduduk usia produktif akan mengakibatkan menurunnya pendapatan nasional. Pertumbuhan ekonomi di Jepang, misalnya diperkirakan menurun tajam pada 2020.

Kedua, peningkatan penduduk lanjut usia (lansia) juga membawa dampak kepada pembiayaan anggaran, sementara di sisi lain, penerimaan menurun akibat produktivitas yang menurun. Akibatnya defisit didalam anggaran pemerintah akan semakin membengkak.

Bagaimana posisi Indonesia? Indonesia akan menikmati bonus demografinya, dimana rasio penduduk usia produktif justru meningkat. Akibatnya, produktivitas di Indonesia akan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tersebut di atas.

Bila negara yang menghadapi persoalan lansia tak mampu menyediakan tenaga kerja produktif -karena hambatan dalam struktur demografi-maka akibatnya negara-negara tersebut harus membuka diri terhadap kemungkinan masuknya tenaga kerja asing.

Dalam hal ini sumber dari tenaga kerja asing akan bergantung kepada negara yang memiliki kelebihan tenaga kerja produktif -salah satunya adalah Indonesia. Apakah Indonesia akan mampu memanfaatkan peluang ini? Jawabannya akan sangat bergantung kepada upaya perbaikan kualitas tenaga kerja.

Oleh karena itu, saya kira fokus kepada pendidikan menjadi amat penting. Kita butuh begitu banyak orang terdidik. Bisnis yang akan berkembang pada masa depan adalah pendidikan, kesehatan, life style, farmasi, dan infrastruktur.

Pertanyaannya adalah mampukah kita memanfaatkan peluang ini? Di sini, buku Anne Booth menjadi relevan: begitu banyak kesempatan yang kita sia-siakan. Tengok saja, hari-hari ini adalah periode di mana kondisi makroekonomi kita relatif baik. Pertumbuhan ekonomi mengalami akselerasi, inflasi terkendali, arus modal masuk mengalir.

Para investor yang mengalami persoalan dalam balance sheet investasinya mulai menengok Emerging Economies (EM) sebagai pilihan. Orang mulai bicara mengenai kemungkinan Indonesia menjadi bagian dari BRIIC dengan dua “I” bersama Brasil, Rusia, India, Indonesia, dan China.

Di sisi lain, negara pesaing seperti Thailand, Malaysia punya persoalan dengan dinamika politiknya. Persoalan di China pun mulai meningkat. Salah satu pabrik sepatu mulai membuka investasinya di Indonesia. Artinya, di antara EM, Indonesia adalah pilihan yang paling layak. Itu sebabnya arus modal mengalir masuk. Akankah kita menyia-nyiakan kesempatan ini lagi?

Dalam beberapa bulan ke depan kita akan menghadapi masalah yang menyenangkan (good problem): pengelolaan arus modal. Ia disebut menyenangkan karena lebih menyenangkan mengelola arus modal masuk ketimbang arus modal keluar. Apa antisipasi kita untuk ini?

Biaya dari sterilisasi akan mahal jika rupiah harus diintervensi. Tanpa sterilisasi, tekanan inflasi akan menguat. Namun, rupiah yang terlalu kuat juga akan memukul ekspor. Bagaimana pengelolaan arus modal masuk dalam portofolio?

Ini pertanyaan yang harus dijawab, karena dalam beberapa bulan ke depan, isu ini akan menjadi riil. Di samping itu, dengan akselerasi ekonomi yang terjadi maka pembangunan infrastruktur, pembenahan logistik tak bisa ditunda. Padahal kita masih melihat bagaimana ketidakpastian masih terjadi, pembangunan infrastruktur masih tersendat, ketidakpastian iklim investasi masih mengganggu, inkonsistensi dalam kebijakan sektoral masih terjadi.

Dalam bidang pendidikan, kesehatan dan inovasi serta peningkatan kapasitas penelitian Indonesia masih tertinggal. Padahal, agar Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografinya dibutuhkan sarana pendidikan, kesehatan infrastruktur, dan science based economy.

Lalu apakah judul buku Anne Booth harus kembali ditulis kembali 20 tahun lagi dengan sedikit modifikasi: another decade of missed opportunities? Kesempatan tak akan berkunjung dua kali. Uniknya, Indonesia kembali lagi memperoleh kesempatan ini. Apakah kita akan menjawabnya dengan mengatakan: kesempatan memang tak berkunjung dua kali, tetapi ia berkunjung empat atau lima kali? Karena kesempatan pertama, kedua dan ketiga, kita buang dengan percuma.

Oleh Muhammad Chatib Basri
Research Associate LPEM-FEUI dan Pengajar FEUI

Advertisements

From → Global neh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: