Skip to content

ayo NGEBUTTTT$$$$$$ … 080410

April 8, 2010

Manufaktur menggeliat
Daya saing digenjot melalui program revitalisasi

JAKARTA: Ekspor produk manufaktur Indonesia terus menggeliat setelah sempat menurun pada Februari lalu dibandingkan dengan ekspor Januari 2010.
Pemulihan ekonomi global telah mendorong ekspor sejak awal tahun ini sekaligus menjadi penyelamat bagi industri nasional, di tengah kekhawatiran terhadap dampak buruk implementasi perjanjian perdagangan bebas Asean-China (ACFTA).

Tren peningkatan ekspor terlihat sejak Januari dan diperkirakan berlanjut pada Maret. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kelompok produk manufaktur dalam 2 bulan pertama 2010 meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kalangan pelaku industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, elektronik, petrokimia, dan barang plastik optimistis tren ekspor itu masih akan naik sekitar 10% pada Maret dibandingkan dengan realisasi pada Februari.

BPS mencatat ekspor produk manufaktur pada Februari US$9,06 miliar, turun 2% dibandingkan dengan realisasi Januari sebesar US$9,25 miliar. Penurunan ini dinilai wajar karena masa produktif industri pada Februari lebih singkat, ditambah libur Imlek yang memperlambat aktivitas ekspor impor.

Dengan proyeksi pertumbuhan 10%, ekspor pada Maret akan mendekati US$10 miliar. Jika proyeksi ini tercapai, ekspor kelompok produk manufaktur pada kuartal I/2010 diprediksi menembus US$28 miliar atau melonjak sekitar 44% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama 2009 sebesar US$19,58 miliar.

Kenaikan ekspor pada Maret diperkirakan masih akan dialami sektor industri mesin/peralatan listrik, karet dan barang dari karet, mesin/pesawat mekanik, pakaian jadi bukan rajutan, perabot, penerangan rumah, kayu dan barang dari kayu.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman memperkirakan pemulihan ekonomi global sejak akhir 2009 memacu produksi manufaktur nasional, a.l. terlihat dari peningkatan order dari sejumlah negara di Asean.

“Ekspor di sektor tekstil dan produk tekstil pada tahun ini akan tumbuh, lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Kami memperkirakan pertumbuhan ekspor TPT bisa 10%,” katanya kemarin.

Impor naik

Sejalan dengan peningkatan ekspor, impor bahan baku/penolong dan barang modal yang menopang kegiatan produksi juga melonjak 46,31% pada Januari-Februari dibandingkan dengan periode yang sama 2009.

Impor bahan baku/penolong tumbuh signifikan 55,27% dari US$8,97 miliar pada Januari-Februari 2009 menjadi US$13,93 miliar pada periode yang sama 2010. Adapun impor barang modal yang pada umumnya berupa mesin dan peralatan industri juga meningkat 37,35% dari US$2,72 miliar menjadi US$3,74 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan kebutuhan bahan baku alas kaki meningkat seiring dengan peningkatan ekspor selama periode itu.

Untuk industri alas kaki golongan menengah dan besar, ekspor diprediksi tumbuh 10% sepanjang 2010. Sejumlah prinsipal alas kaki global seperti Nike, Adidas, Fila, Puma, dan Diadora menambah ordernya sebesar 20% pada tahun ini.

Tambahan order dari para prinsipal global tersebut ditaksir mencapai US$252 juta sehingga order produk tersebut sepanjang tahun ini menembus US$1,51 miliar.

“Dengan peningkatan order dari big buyers, ekspor alas kaki sepanjang 2010 diharapkan bisa mencapai US$2 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian pada 2009 sekitar US$1,8 miliar,” kata Eddy.

Menurut Ade Sudrajat, serbuan produk murah China akibat penerapan ACFTA belum akan mampu menguasai pasar lokal karena daya beli masyarakat saat ini masih lemah. “Masyarakat masih mengutamakan kebutuhan primernya. Saya pikir pasar domestik masih stagnasi.”

Ketua Umum Asosiasi Industri Kemas Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S. Hamidjaja mengatakan industri kemas fleksibel, seperti kantong plastik dan bahan bakunya berupa BOPP (biaxially oriented polyprophylene) film, bahkan tidak akan terusik dengan implementasi ACFTA.

“Industri plastik hilir seperti kami sama sekali tidak terpengaruh dampak negatif ACFTA. China bukan eksportir polipropilena, melainkan justru negara di Asean yang selama ini memasok bahan baku ke industri hilir plastik kita. Untuk berkompetisi dengan produk hilir plastik China, industri kemas fleksibel tak terlalu khawatir,” jelasnya.

Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W. Retraubun mengatakan pemerintah akan memanfaatkan momentum peningkatan ekspor dengan merevitalisasi sektor-sektor industri strategis, seperti petrokimia, pupuk, oleokimia, kelompok agroindustri, agar lebih berdaya saing. (Hery Lazuardi) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

Advertisements

From → Investasi Umum

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: