Skip to content

dokter cinta: Rp = RI1 kah, pede sami2

April 13, 2009


Sabtu, 11/04/2009 10:45 WIB
Pemilu Aman, Rupiah Menuju 11.000/US$
Irna Gustia – detikFinance

(Foto: dok detikFinance) Jakarta – Pelaksanaan pemilu yang aman dan kemungkinan berlanjutnya pemerintahan SBY membuat rupiah lebih bertenaga di pekan depan. Mata uang lokal ini menuju tren level 11.000 per dolar AS.

“Pasar akan merespons positif pemilu yang aman dan kemungkinan bisa berlanjutnya SBY dalam lima tahun ke depan,” kata pengamat valas Toni Mariano ketika dihubungi detikFinance, Sabtu (11/4/2009).

Toni memperkirakan rupiah akan berani berjalan ke level 11.000 per dolar AS atau menguat di bawah level tersebut jika sentimen euforia pemilu diikuti juga sentimen positif lainnya.

Pasar menurutnya sangat respek terhadap hasil pemilu ini meskipun pelaksanaannya masih ada kekurangan. Keberlanjutan pemerintah incumbent setidaknya membuat pelaku pasar tidak perlu repot-repot meraba kemana arah kebijakan ekonomi ke depan, tinggal melanjutkan yang sudah positif dan meninggalkan yang negatif.

Secara jangka pendek, Toni melihat rupiah memang cenderung menguat. Apalagi jika proses pemulihan krisis finansial yang sekarang sedang dijalankan bisa berbuah baik.

“Jadi ke depan memang posisi rupiah ini akan tergantung pada pemulihan krisis finansial,” katanya.

Menurutnya penguatan rupiah juga terjadi karena investor asing yang mulai masuk ke pasar modal setelah melihat hasil pemilu yang aman.
(ir/ir)

… kalo diperhatikan dari grafik di atas, jelas kecenderungan ihsg dan perlemahan Rp saling berlawanan … artinya SEIRING DAN SEIRAMA PENGUATAN IHSG DAN PENGUATAN RUPIAH … sekaligus juga KEYAKINAN INVESTOR TERHADAP 2 ALAT INVESTASI ITU … syukur lah… dan euforia pileg 2009 akan menjamin SAHNYA GOLPUTISASI PEMILU sebagai jawara, dan di atas partai berkuasa-isasi … sekaligus memperkuat fakta bahwa EKONOMI JAUH LEBIH BERMAKNA DAN VITAL BAGI indon daripada politik amburadul … he3

Terjebak “Fenomena Stiglitz-Wise”
/
Artikel Terkait:
Peraih Nobel: Perang Irak Pengaruhi Pelambatan Ekonomi AS
SABTU, 4 APRIL 2009 | 04:45 WIB
KOMPAS.com – SEKTOR finansial menjadi sektor dalam perekonomian yang paling terpukul oleh krisis keuangan dan ekonomi global. Dilihat dari nilai kerugian, angkanya mungkin melebihi kerugian sektor manufaktur sebagai sektor kedua paling terpukul yang sejauh ini sudah merumahkan lebih dari 30.000 pekerja.
Jika krisis finansial global disebut-sebut mengakibatkan lenyapnya nilai aset global hingga 50 triliun dollar AS, di Indonesia angkanya juga sangat spektakuler untuk ukuran skala pasar dan perekonomian lokal.

Seorang panelis pada Diskusi Panel Ahli Ekonomi Kompas mengatakan, akibat krisis global, 60 persen konglomerat di Indonesia nyaris tersapu habis networth-nya. BUMN keuangan juga tergerus tajam labanya.

Akibat terpuruknya harga saham, kerugian yang dialami investor di pasar modal, seperti dilaporkan Infobank, sudah mencapai Rp 457,31 triliun hanya dalam kurun Oktober-September 2008 karena kapitalisasi pasar anjlok dari Rp 1.464,32 triliun menjadi Rp 1.007,01 triliun. Dalam setahun (akhir 2008 dibandingkan dengan akhir 2007), kerugian mencapai Rp 911,83 triliun!

Ditambah sejumlah kasus yang sempat mencoreng citra pasar modal dan finansial, banyak investor memilih menarik diri.

Kondisi sama terjadi di perbankan. Menurut seorang panelis, periode 2007-2008 bisa dikatakan adalah masa bulan madu bagi perbankan Indonesia, yang mencetak rekor demi rekor kinerja yang sangat fantastis. Aset perbankan untuk pertama kali menembus Rp 2000 triliun, jauh melampaui volume APBN yang kini Rp 1.000 triliun. Dana masyarakat meningkat pesat, mencapai Rp 1.750 triliun. Pertumbuhan kredit 2009 juga mencapai angka rekor 31 persen (di atas target BI yang 24 persen) dengan volume kredit dua tahun terakhir melampaui Rp 1.000 triliun.

Namun, ia pesimistis kondisi itu bisa berlanjut tahun ini. Perbankan secara keseluruhan mengalami keketatan likuiditas kendati kondisinya tak merata untuk semua bank. Adanya kepercayaan yang hilang, ditambah kasus-kasus yang sempat menimpa sejumlah bank, seperti Bank Century dan BPR Tripanca, bank jadi semakin risk averse.

Mereka memilih mencari aman dengan menjaga likuiditas lebih tinggi dari yang dibutuhkan dan memilih menaruh dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ketimbang meminjamkan kepada bank lain yang kekurangan likuiditas atau melakukan ekspansi kredit ke nasabah.

Kondisi likuiditas ketat ini bakal menjadi-jadi dengan meningkatnya penerbitan instrumen surat utang oleh pemerintah untuk pembiayaan APBN.

Kecenderungan risk averse, ditambah lagi adanya informasi yang asimetris, membuat mekanisme transmisi kebijakan moneter oleh bank sentral pun tak jalan. Seharusnya, penurunan BI Rate oleh Bank Indonesia diikuti oleh penurunan suku bunga kredit. Tetapi ini tak terjadi. Dalam istilah panelis, perbankan terjebak ”Fenomena Stiglitz- Wise”.

Untuk mengatasi situasi ini, panelis mengatakan, diperlukan langkah-langkah untuk memperbaiki arus informasi dan juga tingkat kepercayaan. Salah satu yang diminta perbankan adalah adanya jaminan terhadap pinjaman antarbank, tetapi gagasan ini ditolak pemerintah antara lain karena alasan moral hazard.

Terobosan

Namun, di tengah kondisi perbankan yang cenderung memilih tiarap ini, ada juga bank yang nyeleneh. Buktinya, masih ada bank, seperti Bank Papua, yang berlimpah likuiditas, berburu nasabah hingga ke wilayah Ibu Kota.

Tetapi, ada juga bank yang karena terlalu bernafsu atau alasan lain terseret keluar dari core business-nya sehingga harus bergumul dengan problem kenaikan kredit bermasalah.

Sejumlah panelis mengingatkan ancaman lonjakan angka kredit bermasalah (NPL), baik yang berasal dari debitor korporasi maupun debitor individual (produktif dan konsumtif). Kondisi ini terutama mengancam bank-bank BUMN atau bank pembangunan daerah (BPD) karena penyelesaian NPL di kelompok bank-bank ini terkendala masalah hukum.

Salah satunya, ketentuan pencadangan (provisi) dan aturan yang melarang mereka memberikan potongan uang (haircut) untuk NPL karena dianggap merugikan negara. NPL yang menumpuk dan menuntut pencadangan besar ini membuat bank-bank tersebut juga semakin tak leluasa berekspansi kredit.

Dalam kondisi seperti ini, mungkin yang diperlukan adalah langkah-langkah yang tidak biasa untuk menerobos kebuntuan di perbankan dan transmisi kebijakan moneter. Dalam kasus NPL bank-bank BUMN, misalnya, harus ada political will untuk mengubah ketentuan yang terlalu kaku kalau tak ingin momok kredit bermasalah jadi masalah yang tak pernah tuntas (never ending story) di bank-bank BUMN.

TAT
Sumber : Kompas Cetak

Senin, 13 April 2009 | 08:56
KINERJA PERBANKAN
Krisis, Bank Bersihkan Neraca dari Kredit Bermasalah

JAKARTA. Krisis keuangan jadi momentum bagi perbankan untuk membersihkan neraca dari kredit busuk. Tahun lalu, banyak bank menghapus kredit bermasalah yang telah menumpuk selama tahunan.

Bagi bank berskala besar, nilai hapus buku mencapai triliunan. PT Bank Mandiri Tbk. yang berstatus bank dengan nilai aset terbesar menghapusbukukan kredit senilai Rp 5,5 triliun. Nilai kredit Bank Mandiri yang sudah dihapusbuku kini mencapai Rp 34,5 triliun. “Kredit yang dihapusbuku tahun lalu, sebanyak 20% berasal dari sektor transportasi,” kata Sukoriyanto Saputro, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri.

Nilai hapusbuku kredit di PT Bank BNI Tbk. tahun lalu mencapai Rp 4,2 triliun, PT Bank BRI Tbk. sebesar Rp 1,5 triliun dan PT Bank Danamon Tbk. senilai Rp 1,2 triliun.

Ada banyak alasan bank menghapusbuku kredit. Bank Mandiri menyebut Prospek usaha yang suram dan rendahnya kemampuan debitur melunasi utang sebagai alasan menghapus kredit.

Sementara BRI melihat kondisi debitur sebelum menghapus kredit. “Kebanyakan kredit yang dihapusbuku merupakan kredit ke debitur yang mengalami musibah seperti bencana alam,” ujar Direktur Bisnis BRI, Sudaryanto Sudargo.

Pertimbangan PT Bank Mega Tbk. lain lagi. “Kami hanya menghapus kredit bermasalah yang jaminannya tidak memadai,” kata Direktur Kredit Daniel Budirahaju.

Analis Mandiri Sekuritas Mirza Adityaswara menilai, wajar jika banyak bank melakukan penghapusbukuan NPL di tahun lalu. Alasannya, banyak bank meraih laba besar di 2008. penghapusbukuan itu juga penting untuk mengantisipasi dampak krisis global. “Yang penting, bank tak menghapus tagih,” ujar Mirza.

Dian Pitaloka Saraswati, Dyah Megasari, Arthur Gideon, Andri Indradie, KONTAN

Advertisements

From → Investasi Umum

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: